Suara.com - Dengan formula yang sama dengan "KKN di Desa Penari", saya tak menyangka "Pabrik Gula" ternyata berhasil melebihi ekspektasi.
Dua film horor garapan Awi Suryadi ini memang sama-sama diangkat dari thread viral Simpleman.
Jika "KKN di Desa Penari" berlatar desa angker di tengah hutan, "Pabrik Gula" membawa penonton merasakan kengerian dari pabrik tua yang menyimpan cukup banyak misteri.
Film ini mengikuti kisah sekelompok buruh pabrik musiman yang bekerja di sebuah pabrik gula.
Semua berjalan lancar sampai suatu malam Endah (Ersya Aurelia) tanpa sadar mengikuti sosok misterius ke dalam kegelapan. Sejak saat itu, teror pun mulai berdatangan.
Dari kecelakaan kerja yang mengerikan hingga kematian tragis di sumur belakang, mereka pun perlahan menyadari bahwa pabrik itu berbatasan langsung dengan kerajaan makhluk gaib.
Kemarahan penghuni dunia lain telah bangkit, menuntut nyawa para pekerja sebagai bayaran alias tumbal.
Seru Tapi Terlalu Banyak Jumpscare!
"Pabrik Gula" tidak menunggu lama untuk memberikan pengalaman horor kepada penonton.
Sejak awal, kita sudah disuguhi jumpscare yang intens dan suara menggelegar yang membuat atmosfer semakin mencekam.
Namun, bagi sebagian orang, formula jumpscare ini justru terasa repetitif dan mulai melelahkan seiring berjalannya film.
Memangnya, kalau setan mau muncul, harus selalu pakai sound effect bak suara petir di langit kemarau?
Bisa kali ya, sesekali pakai cara halus seperti tatapan mengancam atau siluet samar di sudut ruangan.
Dari segi cerita, "Pabrik Gula" memiliki konsep yang lebih matang dibanding "KKN di Desa Penari."
Meski demikian, rasanya seperti upgrade dari film sebelumnya, bukan sesuatu yang benar-benar baru.
Formula yang digunakan masih mirip dengan KKN, hanya saja dengan latar dan mitologi yang diperbarui. Ibarat beli HP baru, fiturnya sama saja, tapi kameranya nambah satu.
Salah satu keunggulan film ini adalah meningkatnya intensitas cerita di babak akhir.
Jika di awal terasa agak lambat, menuju klimaksnya film ini benar-benar menggigit.
Adegan-adegan ritual di bagian akhir berhasil membuat penonton lebih terlibat dan merasakan ketegangan yang meningkat.
Namun, yang membuat saya paling puas dengan film ini, penggunaan bahasa Jawa-nya terdengar lebih natural dari "KKN di Desa Penari".
Komedi yang Pas dan Menggelitik
Tak hanya menghadirkan horor, film ini juga menyelipkan unsur komedi yang cukup efektif.
Karakter Franky (Benidictus Siregar) dan Dwi (Arif Alfiansyah) menjadi highlight dalam hal ini.
Celetukan-celetukan mereka secara natural berhasil mengundang tawa di tengah kengerian.
Ada juga dua satpam pabrik, yang dengan kreatifnya diberi nama Rano (Yono Bakrie) dan Karno (Sadana Agung Sulistya).
Komedi yang disajikan mengingatkan pada gaya horor komedi Thailand, mampu mencairkan suasana tanpa mengurangi intensitas horor itu sendiri.
Rasanya seperti lagi main wahana rumah hantu tapi sama teman yang doyan bercanda, menakutkan tapi sekaligus bikin ngakak.
Versi Uncut Lebih Berani, Tapi Tetap Terkontrol
Film ini hadir dalam dua versi, yaitu untuk penonton umum dan uncut bagi mereka yang sudah berusia 21 tahun ke atas.
Versi uncut menawarkan adegan yang lebih eksplisit dibanding "KKN di Desa Penari" atau "Badarawuhi", tetapi tidak sampai kelewat batas.
Penonton tetap disarankan untuk memilih versi yang sesuai dengan usia dan preferensi masing-masing.
Namun, kalau ekspektasimu ingin melihat sesuatu yang benar-benar "brutal", lebih baik turunkan sedikit harapan.
Ini bukan film yang akan membuat perutmu mual karena adegan gore berlebihan, tetapi lebih ke arah "wow, lumayan berani juga untuk standar horor lokal".
Akting Solid, Produksi Berkualitas
Dari segi akting, semua pemain tampil solid dan saling melengkapi satu sama lain.
Erika Carlina tampil luar biasa dengan karakter Naning yang menyimpan plot twist, sementara Wavi Zihan sebagai Wati benar-benar bersinar di final act.
Tak melupakan jajaran pemain lain, seperti Ersya Aurelia dan Arbani Yasiz, semuanya tampil mengesankan.
Chemistry antar pemain juga terasa natural, membuat interaksi mereka terasa lebih hidup dan meyakinkan.
Bahkan karakter pendukung yang hanya muncul sekilas pun punya kehadiran yang cukup mencolok, tidak terasa seperti tempelan belaka.
Secara produksi, tampak jelas sekali "Pabrik Gula" digarap dengan budget yang cukup besar.
Mulai dari setting pabrik yang detail, atmosfer yang kuat, hingga sinematografi yang rapi, semuanya menunjukkan kualitas produksi yang serius.
Kamera work-nya pun terasa dinamis dan berhasil menangkap ketegangan yang dibangun sepanjang film.
CGI yang digunakan juga cukup halus, meskipun beberapa adegan masih terasa seperti efek komputer di game 2010-an.
Worth It Ditonton!
"Pabrik Gula" mungkin masih menggunakan formula yang mirip dengan "KKN di Desa Penari", tetapi dengan pengemasan lebih baik dan produksi lebih matang.
Jumpscare yang berlebihan memang sedikit mengganggu, karena kita sebagai penonton seperti sudah hafal setannya muncul dari mana.
Namun, itensitas horor di babak akhir, akting yang solid, serta unsur komedinya membuat film ini tetap layak untuk ditonton.
Jika kamu suka film horor dengan atmosfer yang mencekam dan sedikit sentuhan komedi, "Pabrik Gula" adalah pilihan yang pas.
Pastikan kamu memilih versi yang sesuai dengan usia agar bisa menikmati pengalaman menonton yang maksimal.
Namun, jika kamu berharap sesuatu yang benar-benar baru dan segar, mungkin film ini terasa seperti deja vu dengan sentuhan modern.
Ibarat makan nasi goreng di tempat yang berbeda, rasanya sih tetap enak, tapi kamu tahu betul ini bukan pengalaman yang benar-benar baru.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Film A Minecraft Movie menghadirkan petualangan seru di dunia Overworld dengan Jason Momoa, Jack Black, dan deretan bintang lainnya.
Film ini masih disutradarai Sidharta Tata dan diproduksi Rapi Films.
Selain Tom Hanks, film ini juga dibintangi Gary Sinise sebagai Letnan Dan Taylor, Mykelti Williamson sebagai Bubba, dan Sally Field sebagai ibunya Forrest.
Film bergenre horor garapan sutaradara Awi Suryadi itu mampu meraup 1 juta lebih penonton sejak awal penayangannya pada 31 Maret lalu.
Harapan untuk Timnas Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia 2026 masih ada. Patrick Kluivert diminta untuk tidak coba-coba formasi demi hasil maksimal.
Apa yang menjadi tuntutan VISI dan AKSI untuk segera diselesaikan melalui Revisi UU Hak Cipta?
Wajib hukuman mati. Itu permintaan dari pihak keluarga dan saya pribadi sebagai kakak yang merasa kehilangan, ujar Subpraja.
Selain bertentangan dengan kebebasan pers dan prinsip terbuka untuk umum, pelarangan tersebut dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap pengadilan.
Penghapusan SKCK perlu dipertimbangkan secara proporsional dengan kepentingan publik.
Patut diduga PT LTI terhubung dengan Partai Gerindra yang menjadikan proses penunjukan PT LTI menimbulkan konflik kepentingan, kata Erma.
Tindakan kekerasan yang melibatkan anggota TNI terhadap peserta demo tolak pengesahan UU TNI adalah sebuah peringatan, sekaligus upaya membungkam masyarakat sipil.