Warisan Puing-Puing: Nasib PFN di Tangan Ifan Seventeen, Mampukah Bangkit?
Home > Detail

Warisan Puing-Puing: Nasib PFN di Tangan Ifan Seventeen, Mampukah Bangkit?

Erick Tanjung | Muhammad Yasir

Selasa, 18 Maret 2025 | 08:06 WIB

Suara.com - PENUNJUKAN Riefian Fajarsyah alias Ifan Seventeen sebagai Direktur Utama PT Produksi Film Nasional (PFN) menuai polemik. Banyak pihak, khususnya para sineas yang mempertanyakan kemampuan Ifan memimpin badan usaha milik negara tersebut.

Hal itu karena latar belakangnya. Ifan lebih dikenal di industri musik lewat bandnya, Seventeen ketimbang perfilman.

Aktor Fedi Nuril, misalnya, mempertanyakan prestasi Ifan dalam industri film tanah air. Dia mengaku heran mengapa harus Ivan yang ditunjuk.

"Tapi yang diangkat menjadi Dirut PT PFN malah Ifan Seventeen yang kemampuan, pengalaman, dan prestasinya dalam film Indonesia gak jelas,” komentar Fedi lewat akun X/Twitter miliknya pada Rabu (12/3/2025) lalu.

Sutradara Joko Anwar, tak ketinggalan berkomentar. Dia turut meragukan kemampuan Ifan memipin PT PFN. Menurutnya yang perlu diperjelas terlebih dahulu apa visi-misi dari PFN saat ini.

"Setelah jelas visi misi-nya dari PFN, baru ketahuan Ifan Seventeen tidak cocok atau tidak cocok banget jadi Dirut. Gue gak bilang cocok ya," katanya dikutip dari chanel You Tube Kemal Palevi.

Menjawab keraguan terhadapnya, Ifan mengaku aktif dalam dunia perfilm sejak 2019 lewat rumah prduksi yang dimilikinya.

"Banyak publik yang belum tahu sebenarnya dari tahun 2019 aku udah punya PH, production house sebenarnya," katanya pada Jumat (14/3).

Preskon film kemarin  [Suara.com/Marni]
Preskon film kemarin [Suara.com/Marni]

Namun, Joko Anwar bilang, dirinya yang sudah berkecimpung dalam dunia film sekitar 20 tahun, masih ragu akan kemampuannya. Dia menyebut industri film sangat kompleks. Karenanya dia bilang pengalaman saja tak cukup.

"Ifan Seventeen punya beberapa kredit terlibat di beberapa film, tapi it's not enough (itu tidak cukup)," tegasnya.

Pengamat film, Hikmat Darmawan tidak ingin berkomentar apakah penunjukkan Ifan sudah tepat atau tidak. Namun, dia menegaskan bahwa penunjukan itu di luar ekspektasi.

"Penunjukan Ifan sudah tepat? Gimana, ya? Yang jelas di luar ekspektasi banyak orang," kata Hikmat kepada Suara.com, Minggu (16/3/2024).

Menurutnya siapa pun yang memimpin PFN saat ini, hanya mewarisi puing-puing. Hal itu merujuk pada pernyataan yang disampaikan Mohamad Abduh Aziz saat ditunjuk sebagai Direktur Utama PFN periode 2016-2019.

"Nah Abduh itu bolak-balik bilang ke teman-teman, 'wah ini mah gua kayak diwarisi puing-puing ini.' Sudah bukan hanya diwarisi perusahaan yang mandek, tapi sudah puing-puing," kata Hikmat.

Menurut Hikmat, Abduh saja mengeluh saat harus memimpin PFN. Padahal namanya dalam industri tersebut bukan sembarangan. Dia dikenal sebagai produser dan paham soal ekosistem film.

"Kalau misalnya siapapun yang menempati (dirut PFN), ya. seperti Abduh. Mewarisi puing-puing. Perlu hal yang sangat progresif dan mungkin revolusioner terhadap PFN. Selebihnya, ya, sama saja jadinya. Abduh saja yang progresif rada mentok terakhir-terakhir," jelasnya.

Hikmat pun mengungkapkan, berbagai persoalan yang terjadi di PFN, di antaranya budaya kerjanya yang masih sangat birokratif, lambat, dan minim fasilitas. Kemudian kemampuan para pegawainya yang belum memahami dinamika perfilman dan indusrinya. Selain itu, kata Himat, fakta bahwa negara tidak menaruh perhatian yang besar bagi BUMN seperti PFN, Balai Pustaka dan Lokananta.

"Bahkan aset yang dimiliki termasuk aset-aset bersejarahnya itu tidak dikembangkan. Dan untuk mengembangkan itu sukar sekali," katanya.

"Tidak diberi kanal permodalan yang memadai dan disuruh cari sendiri. Tapi pada saat yang sama tidak ada keringanan untuk mencapai target dari pemerintah," sambungnya.

Sementara merujuk pada laporan Kinerja Kementerian BUMN pada 2023, PT PFN termasuk perusahaan negara yang mengalami penurunan tingkat kesehatan. Hal itu disebabkan kinerjanya perusahaan dari sisi pendapatan turun dan mengalami kerugian, serta dalam proses restrukturisasi.

Pada laporan keuangan FPN 2023, mencatatkan pendapatan Rp2.690.372.539 pada 12 Oktober-31 Desember 2023, dan pada periode 1 Januari-11 Oktober 2023 mencatakan pendapatakan Rp10.500.489.454. Pendapat itu mengalami penurunan dibanding pendapatan pada 2023 yakni Rp18.129.568.452.

Aset PFN sendiri bernilai Rp34.172.893.940 per 31 Desember 2023. Namun memiliki utang usaha Rp 212.644.113 dan utang pajak Rp13.087.492.188.

Dengan dinamikan perfilman saat ini, menurut Hikmat, PFN tidak memiliki kontribusi apa-apa. Namun, sangat disayangkan, jika PFN dengan sejarah dan berbagai aset yang dimilikinya, perusahaan milik negara ini tidak berkembang.

"Pertanyaaan saat ini, dan kedepan kontribusinya bisa lebih besar enggak? Menurut saya sih, enggak. Potensinya lebih ke nonpruduksi film akan lebih optimal kontribusinya dalam perfilm Indonesia," ujar Himat.


Terkait

Sinopsis Kau & Dia, Diduga Film Karya Ifan Seventeen yang Diklaim Paling Laku di OTT Pemerintah
Senin, 17 Maret 2025 | 20:48 WIB

Sinopsis Kau & Dia, Diduga Film Karya Ifan Seventeen yang Diklaim Paling Laku di OTT Pemerintah

Diragukan jadi Dirut PFN, Ifan Seventeen mengaku pernah jadi eksekutif produser film paling laku di sebuah OTT.

Potret Ifan Seventeen Rayakan Ulang Tahun di Tengah Kontroversi Jabatan Dirut PT PFN
Senin, 17 Maret 2025 | 16:11 WIB

Potret Ifan Seventeen Rayakan Ulang Tahun di Tengah Kontroversi Jabatan Dirut PT PFN

Momen ulang tahun Ifan dirayakan hanya beberapa hari setelah ia resmi dilantik menjadi Direktur Utama (Dirut) PT Produksi Film Nasional alias Dirut PFN.

Terbaru
4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya?
polemik

4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya?

Rabu, 18 Maret 2026 | 18:42 WIB

Keempat prajurit yang kini berstatus tersangka tersebut memiliki inisial NDP, SL, BHW, dan ES. Saat ini, mereka telah ditahan di Pomdam Jaya

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS? polemik

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS?

Rabu, 18 Maret 2026 | 16:17 WIB

Banyak pihak meyakini ini adalah serangan teror yang ditujukan langsung untuk membungkam suara kritis Andrie dan para pembela hak asasi manusia

Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi? polemik

Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi?

Senin, 16 Maret 2026 | 19:29 WIB

Upaya Gus Yaqut lolos dari jerat hukum sempat kandas setelah permohonan praperadilannya ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah? polemik

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah?

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:33 WIB

Dalam tradisi komunikasi, khususnya di lingkungan militer, taklimat adalah sebuah instruksi yang bersifat teknis, padat, dan sangat strategis

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos? polemik

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos?

Senin, 09 Maret 2026 | 19:36 WIB

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas anak di internet semakin tinggi, sementara risiko yang mereka hadapi juga semakin kompleks

Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara polemik

Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara

Sabtu, 07 Maret 2026 | 13:38 WIB

Kasus ini bukanlah sekadar suap atau pemerasan biasa, melainkan cerminan dari metamorfosis korupsi yang kini jauh lebih terstruktur, canggih, dan sulit diendus

Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks polemik

Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks

Jum'at, 06 Maret 2026 | 23:55 WIB

Salah satu pilar unik dalam strategi China di Indonesia adalah pendekatannya terhadap komunitas Muslim, mulai dari "diplomasi santri", hingga pemanfaatan isu Gaza Palestina.

×
Zoomed