Diskon Listrik Tak Cukup Dongkrak Daya Beli: Kenapa Ramadan Tahun Ini Justru Deflasi?
Home > Detail

Diskon Listrik Tak Cukup Dongkrak Daya Beli: Kenapa Ramadan Tahun Ini Justru Deflasi?

Erick Tanjung | Muhammad Yasir

Senin, 10 Maret 2025 | 13:05 WIB

Suara.com - Pola perilaku konsumsi masyarakat acap kali meningkat di bulan Ramadan. Tren tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di mayoritas negara dengan penduduk muslim. Lantas mengapa deflasi justru terjadi menjelang Ramadan di Indonesia?

BEHAVIORAL Economist dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Lury Sofyan dalam tulisannya di The Conversation menjelaskan, secara psikologis perilaku konsumtif itu terjadi akibat kemampuan pengendalian diri seseorang atau self-control saat berpuasa melemah. Di mana dalam kondisi tersebut, masyarakat kerap membuat keputusan yang impulsif saat berbelanja.

Efek dopamin yang memicu rasa senang berlebihan, menurut Sofyan juga kerap membuat masyarakat lebih menikmati proses berbelanja makanan atau takjil. Walaupun akhirnya seringkali tidak dikonsumsi ketika berbuka puasa.

“Tak heran, menjelang berbuka kita sering kali membeli lebih banyak makanan daripada yang benar-benar kita butuhkan,” jelas Sofyan dikutip Suara.com.

Tren melonjaknya konsumsi masyarakat selama Ramadan itu, kata Sofyan, setiap tahun biasa terjadi tidak hanya di Indonesia. Hasil studi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 2021 menunjukkan, limbah makanan selama Ramadan meningkat 30 persen di banyak negara muslim.

Namun kondisi berbeda terjadi di bulan Ramadan tahun ini di Indonesia. Alih-alih mengalami peningkatan, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2025 atau satu bulan menjelang Ramadan justru mengalami penurunan.

Pasar Takjil Benhil alami penurunan pembeli tahun ini. (Suara.com/Firsta Nodia)
Pasar Takjil Benhil alami penurunan pembeli tahun ini. (Suara.com/Firsta Nodia)

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat pada Februari 2025 Indonesia mengalami deflasi secara bulanan dan tahunan. Tingkat deflasi bulanan atau month to month (mtm) sebesar 0,48 persen dan deflasi tahunan atau year on year (yoy) 0,09 persen.

Deflasi tahunan baru terjadi kembali di Indonesia. Terakhir Indonesia mengalami deflasi tahunan sebesar 1,10 persen pada Maret 2020. Penyumbang deflasi tahunan saat itu didominasi oleh kelompok bahan makanan.

Mengapa terjadi deflasi jelang Ramadan?

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut penyumbang deflasi pada Februari 2025 didominasi diskon tarif listrik. Sejak Januari-Februari, pemerintah Prabowo-Gibran menerapkan diskon tarif listrik sebesar 50 persen untuk pelanggan PLN dengan daya listrik 2.200 VA dalam rangka menjaga daya beli masyarakat.

"Komoditas utama penyebab deflasi Februari adalah diskon tarif listrik, daging ayam ras, cabai merah, tomat dan telur ayam ras," ungkap Amalia.

Sementara Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, deflasi yang terjadi jelang Ramadan bukan semata-mata akibat diskon tarif listrik. Sebab deflasi terjadi di beberapa komoditas pangan. Seperti daging ayam ras dan telur ayam ras, cabai dan sebagainya.

“Sisi permintaan seharusnya makin naik setelah ada diskon tarif listrik, karena uang yang dihemat dari pengeluaran listrik bisa dibelanjakan masyarakat,” kata Bhima kepada Suara.com.

Warga dan para karyawan membeli makanan atau takjil untuk berbuka puasa di kawasan Kebon Kacang, Jakarta, Senin (29/5).
Warga dan para karyawan membeli makanan atau takjil untuk berbuka puasa di kawasan Kebon Kacang, Jakarta. (Ist)

Menurut Bhima deflasi yang terjadi tidak terlepas dari faktor daya beli masyarakat yang masih lemah. Sehingga di Ramadan tahun ini banyak masyarakat yang memilih untuk menahan belanja.

Apalagi, lanjut Bhima, di tengah kondisi badai pemutusan hubungan kerja atau PHK yang terjadi di sektor industri padat karya. Sejak Januari-Desember 2024 Kementerian Tenaga Kerja mencatat angka PHK di Indonesia telah mencapai 77.965 orang. Sedangkan di Januari 2025, telah mencapai 3.325.

“Itu jadi alarm juga dari sisi demand pull inflation,” jelas Bhima.

Seorang penjual salad buah bernama Ronna (30) mengakui terjadinya penurunan daya beli masyarakat di Ramadan tahun ini. Berbeda dari tahun lalu di mana dalam sehari perempuan asal Depok, Jawa Barat itu mengaku rata-rata bisa menerima pesanan mencapai 20 pcs.

“Tahun ini menurun. Kadang sehari nggak ada sama sekali,” ungkap Ronna kepada Suara.com.

Hal serupa juga diakui Toto dan Erik. Pedagang gorengan dan soto di sekitar Setiabudi, Jakarta Selatan itu terang-terangan menyebut Ramadan tahun ini tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dibanding tahun lalu di awal puasa, ya masih lebih baik tahun lalu lah,” katanya.

Sedangkan Ilham (37) warga Bekasi, Jawa Barat salah satu yang mengaku mengubah perilaku konsumsi di Ramadan tahun ini. Bersama istrinya, dia memutuskan menahan belanja dan lebih mengalokasikan sisa uang yang ada untuk ditabung.

“Tahun lalu misalnya beli es buah jadi, tahun ini bikin sendiri,” tutur Ilham. “Karena lumayan selisihnya, sekali beli buah juga bisa untuk besoknya.”

Selain karena melihat kondisi perekonomi yang kurang baik, karyawan BUMN tersebut mengaku turut terdampak kebijakan efisiensi. Di mana sejak Desember, uang bonus yang semestinya diterima setiap enam bulan masih tertahan.

“Jadi mau nggak mau harus ngirit,” ungkapnya.

Ilham mengaku bersama istrinya juga telah sepakat untuk menahan belanja saat lebaran Idul Fitri. Uang tunjangan hari raya atau THR rencananya akan mereka prioritaskan untuk ditabung.

“Istri udah setuju juga, misalnya baju lebaran pakai yang tahun lalu aja. Sama THR untuk saudara-saudara tahun ini juga disesuaikan keadaan, karena terdampak efisiensi,” ucapnya seraya tertawa.

Penuturan Ilham sejalan dengan hasil analisis Bhima. Direktur Celios itu memperkirakan efek THR di lebaran tahun ini terhadap pertumbuhan ekonomi tidak akan signifikan dibanding tahun lalu.

“Relatif kecil, karena masyarakat banyak yang simpan THR untuk keperluan pasca-lebaran,” tandasnya.


Terkait

Aksi Kekerasan Ormas di Garut saat Razia Rumah Makan, Guru Besar Fikih UIN: Mereka Bukan Wilayatul Hisbah
Senin, 10 Maret 2025 | 10:07 WIB

Aksi Kekerasan Ormas di Garut saat Razia Rumah Makan, Guru Besar Fikih UIN: Mereka Bukan Wilayatul Hisbah

Mereka bukan representasi Wilayatul Hisbah (badan resmi negara) yang berfungsi menegakkan aturan pemerintah."

Jaga Mobilmu Tetap Gahar Selama Ramadan: 6 Tips Jitu yang Wajib Kamu Tahu
Minggu, 09 Maret 2025 | 17:31 WIB

Jaga Mobilmu Tetap Gahar Selama Ramadan: 6 Tips Jitu yang Wajib Kamu Tahu

Panduan lengkap menjaga performa mobil selama bulan Ramadan. Temukan 6 tips praktis untuk memastikan kendaraan Anda tetap prima saat menjalani ibadah puasa.

Rezeki Ramadan: Produsen Kolang-Kaling Madiun Ketiban Berkah Harga Naik 2x Lipat!
Senin, 10 Maret 2025 | 03:50 WIB

Rezeki Ramadan: Produsen Kolang-Kaling Madiun Ketiban Berkah Harga Naik 2x Lipat!

Tidak hanya peningkatan permintaan produk kolang kaling yang melonjak hingga dua kali lipat, namun dari segi harga juga mengalami kenaikan sebesar Rp 7.000 per kilogram.

Terbaru
Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan
polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

×
Zoomed