Skandal Solar Subsidi Kolaka: Nelayan Menjerit, Negara Rugi Rp105 Miliar!
Home > Detail

Skandal Solar Subsidi Kolaka: Nelayan Menjerit, Negara Rugi Rp105 Miliar!

Erick Tanjung | Muhammad Yasir

Senin, 03 Maret 2025 | 20:49 WIB

Suara.com - Iing Rohimin tak kaget mendengar berita pegawai PT Pertamina Patra Niaga (PPN) terlibat dalam kasus penyelewengan bahan bakar minyak atau BBM jenis solar bersubsidi untuk nelayan di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sebab Sekretaris Jenderal DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) tersebut mengaku sudah lama mengetahui dan melaporkan praktik semacam itu ke pemerintah.

“Kami sudah teriakkan persoalan ini sudah lama. Bahkan kepada Pertamina,” kata Rohimin kepada Suara.com, Senin (3/3/2025).

Pada Senin, 3 Maret 2025, Bareskrim Polri mengungkap kasus penyelewengan BBM jenis solar bersubsidi di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kerugian negara di balik kasus tersebut ditaksir mencapai Rp105 miliar.

Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Nunung Syaifuddin menyebut, para pelaku awalnya menimbun BBM solar bersubsidi di sebuah gudang ilegal di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Solar bersubsidi itu semestinya disalurkan ke SPBU, SPBU Nelayan, serta agen penyaluran minyak dan solar atau APMS.

“Tapi disalahgunakan dengan cara dibelokkan ke gudang penimbunan tanpa perizinan,” kata Nunung.

“Kami menemukan sejumlah barang bukti, di antaranya tiga truk tangki, sejumlah tandon, dan solar subsidi yang telah disalahgunakan.”

Rangkaian perkara ini bermula ketika pemilik SPBU dan SPBUN selaku pengguna ID khusus MyPertamina menebus BBM bersubsidi ke PT PPN Operation Region VII Makassar. Kamudian PT Elnusa Petrofindo selaku perusahaan transportasi penyalur BBM yang terhubung dengan sistem tersebut, melakukan pengiriman sesuai permintaan.

Dalam pengiriman itu, kata Nunung, truk BBM diwajibkan mengaktifkan GPS. Namun dalam kasus ini, truk itu justru menonaktifkan GPS selama 2 jam 27 menit.

“Truk pengangkut BBM subsidi milik PT EP seolah-olah mengangkut ke SPBUN tujuan pengiriman. Padahal truk tangki PT EP yang mengangkut BBM subsidi tersebut kembali ke arah Kolaka dan mendekati gudang ilegal penimbunan,” ungkapnya.

Ilustrasi solar subsidi. [Istimewa]
Ilustrasi solar subsidi. [Istimewa]

Selain melibatkan pegawai PT PPN, praktik culas ini diduga turut melibatkan pengelola gudang berinisial BK, pemilik SPBUN berinisial A, dan pemilik truk berinisial T. Keempat terduga pelaku saat ini masih berstatus terlapor.

“Pekan ini kami akan melakukan pemanggilan terhadap orang-orang ini,” jelas Nunung.

Berdasar hasil pemeriksaan, para terduga pelaku mengaku telah melakukan praktik culas tersebut sejak dua tahun terakhir. Mereka menjual BBM jenis solar bersubsidi itu dengan harga Rp19.300 atau seharga solar industri ke kapal tongkang pertambangan.

Terpaksa Beli Bensin Eceran

Rohimin menyebut 82,8 persen nelayan kecil tidak memiliki akses terhadap BBM jenis solar bersubsidi. Hal itu diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan KNTI bersama Koalisi untuk Ketahanan Usaha Perikanan Nelayan (KUSUKA). Penelitian dilakukan di 10 provinsi dan 25 kabupaten/kota pada 2020-2021.

Dalam kondisi itu, kata Rohimin, nelayan kecil di sebagian besar di kampung-kampung nelayan akhirnya terpaksa membeli BBM jenis solar di pedagang eceran. Sekalipun harga yang dijual lebih mahal. Selisih harganya mencapai Rp4.000 jika dibanding harga solar bersubsidi Rp6.800.

“Mau tidak mau itu kami lakukan daripada kami tidak bisa kerja. Praktik itu terjadi di banyak kampung nelayan sampai dengan hari ini,” jelas Rohimin.

Mirisnya, Rohimin menyebut kondisi tersebut harus dialami nelayan kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Hasil penilaian KNTI bersama KUSUKA pada 2022 menunjukkan, 11,34 persen nelayan kecil hidup di bawah garis kemiskinan. Di mana 60-70 persen biaya melaut itu mereka habiskan hanya untuk membeli bahan bakar.

“Pengawasan dan penindakan itu harus memberikan efek jera kepada semua pelaku. Sehingga kami nelayan-nelayan tradisional tidak dirugikan terus menerus,” ungkapnya.

Barang bukti berupa puluhan jeriken berisi biosolar bersubsidi disita jajaran Polda Sumbar. [Suara.com/B. Rahmat]
Barang bukti berupa puluhan jeriken berisi biosolar bersubsidi disita jajaran Polda Sumbar. [Suara.com/B. Rahmat]

Peneliti The PRAKARSA, Bintang Aulia Lutfi mengungkap dua kemungkinan penyebab di di balik penyelewengan BBM bersubsidi yang terus berulang kali terjadi ini.

“Penyelewengan subsidi bahan bakar sebenarnya di antara dua hal, yaitu korupnya sistem atau korupnya perilaku,” tutur Bintang kepada Suara.com.

Perilaku yang korup itu, kata Bintang, terjadi karena sistem yang sudah tidak relevan. Sehingga memberi celah bagi aktor atau pelaku di lapangan melakukan tindakan koruptif.

“Perilaku koruptif itu sebenarnya dapat ditindak apabila sistem tersebut dijalankan dengan efektif dan komit,” ungkapnya.

Karena itu, Bintang menilai pemerintah sudah semestinya memperbaiki sistem distribusi BBM subsidi. Selain juga meningkatkan pengawasan berbasis digital yang tidak hanya sekadar di atas kertas.

“Penerapannya teknologi itu harus benar-benar dimaksimalkan sebagai tools monitoring yang efektif. Karena sanksi yang diberikan sudah cukup tegas namun penegakannya perlu digunakan teknologi yang efektif dan transparan, sehingga praktik ini dapat ditanggulangi,” ujarnya.

Sementara Sekretaris BPH Migas Patuan Alfon S mengklaim pihaknya terus melakukan evaluasi agar BBM subsidi benar-benar tepat sasaran. Selain bekerja sama dengan aparat penegak hukum, BPH Migas, kata dia, juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan BBM subsidi di masing-masing wilayah.

“Ini akan menjadi evaluasi bagi pimpinan yang ada di BPH Migas,” katanya.


Terkait

Golkar Sebut Korupsi Pertamina dengan Kepemimpinan Bahlil Sebagai Menteri ESDM Tidak Sinkron
Senin, 03 Maret 2025 | 19:23 WIB

Golkar Sebut Korupsi Pertamina dengan Kepemimpinan Bahlil Sebagai Menteri ESDM Tidak Sinkron

Diharapkan publik lebih cerdas dan kritis dalam menilai kasus ini sehingga tidak ada salah persepsi dalam mengawal kasus korupsi yang merugikan rakyat.

Pangsa Pasar Tembus 96 Persen, Pertalite-Pertamax BBM Paling Banyak Digunakan Masyarakat
Senin, 03 Maret 2025 | 16:24 WIB

Pangsa Pasar Tembus 96 Persen, Pertalite-Pertamax BBM Paling Banyak Digunakan Masyarakat

PTH Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra mengatakan, kekinian, perseroan melayani BBM dari sabang hingga Merauke.

Biar Publik Percaya, Pertamina Mau Uji Lab Produk BBM di Lembaga Independen
Senin, 03 Maret 2025 | 16:09 WIB

Biar Publik Percaya, Pertamina Mau Uji Lab Produk BBM di Lembaga Independen

Upaya ini untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat ke Pertamina, setelah hebohnya BBM oplosan yang terungkap dari kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah.

Terbaru
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

×
Zoomed