Ironi Retreat Kepala Daerah: Minim Manfaat di Tengah Efisiensi Anggaran
Home > Detail

Ironi Retreat Kepala Daerah: Minim Manfaat di Tengah Efisiensi Anggaran

Erick Tanjung

Rabu, 19 Februari 2025 | 15:15 WIB

Suara.com - Pemerintah menggelar retreat bagi ratusan kepala daerah terpilih dari seluruh Indonesia. Digelar di Akademi Militer Magelang, acara ini dinilai minim manfaat dan bertolak belakang dengan efisiensi anggaran.

MELANTIK sejumlah bupati dan wakil bupati terpilih, Gubernur Aceh Muzakir Manaf selalu menitipkan pesan di akhir pidato agar mereka bersiap mengikuti retreat di Akademi Militer Magelang, pada 21-28 Februari 2025.

Sementara wakil bupati disebut hanya ikut saat penutupan dan pengarahan Presiden Prabowo Subianto pada 28 Februari.

“Mungkin besok sudah bisa berangkat,” kata Muzakir Manaf ketika melantik Mukhlis dan Razuardi sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bireuen, Selasa (18/2/2025) malam.

Pelantikan kepala daerah hasil pemilihan serentak 2024 digelar lebih awal dan khusus di Aceh. Sedangkan daerah lain, pelantikan akan dilakukan serentak oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta pada 20 Februari 2025. Esoknya, mereka akan mengikuti retreat di Magelang.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya mengatakan retreat tersebut bagian dari pembekalan kepala daerah, yang dulu juga rutin digelar. Pembekalan ini dinilai penting karena tidak semua kepala daerah memiliki latar belakang pemerintahan.

“Juga penting untuk sinkronisasi kebijakan pusat daerah,” kata Bima Arya.

Menurutnya, retreat ini termasuk ringkas. Sebab, pembekalan di Kementerian Dalam Negeri biasanya digelar hingga dua pekan. “Sekarang ini semua dipangkas menjadi tujuh hari. Tadinya bahkan acara Magelang ini direncanakan 14 hari,” ujarnya.

Bima menuturkan setidaknya ada lima pokok pembekalan dalam retret kepala daerah. Pertama, pemahaman tentang tugas pokok, mengingat tidak semua kepala daerah terpilih berlatar belakang politik pemerintahan.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. (Suara.com/Fakhri)
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. (Suara.com/Fakhri)

Kedua, pemahaman tentang Astacita. Menurut dia, delapan visi pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu penting diketahui oleh para kepala daerah.

"Makan bergizi, ketahanan pangan, pendidikan kesehatan, ini penting. Makanya, ada sekitar 40 lebih menteri yang akan berbicara di sana," tuturnya.

Ketiga, membangun kedekatan emosional antarkepala daerah demi kelancaran pembangunan di daerah ke depan. Masih menurut Bima, kegiatan retreat kepala daerah tidak bisa dilakukan secara daring.

"Kita membayangkan nanti teman-teman kepala daerah itu, kalau sudah akrab, sudah kenal maka akan mudah berkoordinasi. Ketika misalnya daerahnya itu butuh beras, daerahnya itu butuh bawang, ya sudah tahu, 'Oh kita tinggal kontak', nyambung," katanya.

Keempat, kata Bima, tentang pengelolaan anggaran karena kepala daerah perlu mengawal uang rakyat. Terkait materi ini, akan dihadirkan KPK, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan kepolisian.

Kelima, kepala daerah akan diberikan materi tentang ketahanan nasional dan wawasan kebangsaan. Ini bertujuan menjadikan kepala daerah sebagai garda terdepan pemersatu bangsa sekaligus tokoh nasionalis.

Bertentangan dengan Efisiensi Anggaran

Retreat kepala daerah ini menuai kritik dari berbagai pihak. Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA) Misbah Hasan menilai kegiatan itu bertentangan dengan Instruksi Presiden 1/2025 mengenai efisiensi anggaran.

“Karena penguatan kapasitas kepala daerah yang masif justru tidak efektif,” kata Misbah dalam diskusi virtual Retreat Kepala Daerah dan Efisiensi Anggaran: Reformasi Birokrasi Setengah Hati yang digelar Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Birokrasi, Selasa (18/2).

“Karena penguatan kapasitas kepala daerah bisa dilakukan berdasarkan zona daerah sehingga lebih kontekstual dan efektif.”

Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Herman N Suparman juga mengkritik retreat ini. Ia menilai kegiatan tersebut tidak efektif di tengah situasi efisiensi anggaran.

“Retreat ini memberikan beban tersendiri bagi kepala daerah terpilih. Mereka harus mengeluarkan ongkos untuk perjalanan, dan itu tentu berlawan dengan Inpres 1/2025,” katanya.

Gladi bersih pelantikan kepala daerah yang akan diselenggarakan pada 20 Februari mendatang. (Suara.com/Fakhri)
Gladi bersih pelantikan kepala daerah di kawasan Monas, Jakarta. (Suara.com/Fakhri)

Jika retreat kepala daerah bertujuan untuk sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah, Herman melihat akar masalahnya justru di sejumlah kebijakan strategis level nasional. “Misalnya ketidakharmonisan antara Undang-Undang Pemda dengan undang-undang sektoral yang lain,” kata Herman.

“Kenapa hal-hal ini yang tidak disorot untuk mengatasi persoalan yang terkait hubungan pusat dan daerah.”

Pemerintahan Sipil, Bukan Militer

Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti mendorong agar retreat kepala daerah dibatalkan. Sebab, menurutnya, acara ini lebih menekankan supaya kepala daerah memahami pemerintah pusat, bukan sebaliknya.

“Ada semacam arahan sentralisme, di mana pemerintah pusat yang harus disukseskan programnya oleh pemerintah daerah. Sementara pemerintah daerah belum tentu dibantu pemerintah pusat untuk menyukseskan program-program mereka di daerahnya masing-masing,” kata Ray.

Selain itu, Roy menilai nuansa militerisme dalam retreat ini sangat kuat, yang tidak relevan dengan pengelolaan pemerintahan sipil. Sebab, yang paling penting dalam pengelolaan pemerintahan adalah good governance atau tata kelola yang baik.

“Pengelolaan pemerintahan itu dilakukan dengan mekanisme yang kulturnya adalah sipil, bukan militer,” terang Ray.

Menurut Ray, materi yang disampaikan dalam retreat itu tidak mendukung untuk menuju tata kelola yang baik, seperti antikorupsi, meningkatkan partisipasi publik, dialog dengan publik, hingga transparan dalam pengelolaan pemerintahan daerah. “Saya rasa nggak ada,” katanya.

Minim Manfaat, Nihil Bukti di Kementerian

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Almas Ghaliya Putri Sjafrina memandang pemerintah sejatinya meniadakan kegiatan yang minim manfaat bagi publik di tengah kondisi pemangkasan anggaran. Ini kebijakan yang sangat kontradiktif.

“Bahkan untuk pendidikan dasar saja pemerintah memangkas anggaran. Seharusnya pemerintah juga meniadakan kegiatan-kegiatan yang minim manfaat, apalagi tidak berkaitan dengan kepentingan publik secara umum,” kata Almas.

Menurut Almas, efektivitas retreat yang pernah dilakukan sebelumnya untuk kementerian dan lembaga tidak terlihat. Sebab, antarkementerian memberikan pernyataan kontradiktif yang tidak saling mendukung di isu efisiensi anggaran.

“Strategi pemerintah membangun bonding, kekompakan, mengharmoniskan kebijakan pusat daerah dengan strategi menyelenggarakan retreat ternyata kemarin membuahkan hasil banyak mis-nya,” kata Almas.

____________________________________

Kontributor Aceh: Habil Razali


Terkait

Sebelum Dilantik Prabowo, Para Kepala Daerah Terpilih Bakal 'Dijemur' Dulu di Monas
Rabu, 19 Februari 2025 | 14:05 WIB

Sebelum Dilantik Prabowo, Para Kepala Daerah Terpilih Bakal 'Dijemur' Dulu di Monas

"Besok jam 7 pagi kami berkumpul di sini, nanti masuk dengan parade berbaris menuju ke istana,"

Gladi Bersih Pelantikan Kepala Daerah di Monas Tertutup, Keluarga Jauh-jauh dari Maluku Rela Nonton Lewat Videotron
Rabu, 19 Februari 2025 | 13:40 WIB

Gladi Bersih Pelantikan Kepala Daerah di Monas Tertutup, Keluarga Jauh-jauh dari Maluku Rela Nonton Lewat Videotron

Disediakan pula layar videotron di tenda itu agar keluarga dan kerabat kepala daerah terpilih bisa menyaksikan prosesi gladi bersih.

Gladi Bersih Pelantikan Kepala Daerah, Dedi Mulyadi Ngevlog Sambil Hujan-hujanan: Semangat Barisnya Dong
Rabu, 19 Februari 2025 | 11:20 WIB

Gladi Bersih Pelantikan Kepala Daerah, Dedi Mulyadi Ngevlog Sambil Hujan-hujanan: Semangat Barisnya Dong

Dalam kesempatan ini terdengar suara dari Rano Karno yang mengaku heran Dedi bisa membawa masuk HP-nya dan membagian video vlog.

Terbaru
Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark
polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing" polemik

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing"

Senin, 18 Mei 2026 | 22:10 WIB

Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna? video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

×
Zoomed