Utak-atik APBN Demi Makan Bergizi Gratis
Home > Detail

Utak-atik APBN Demi Makan Bergizi Gratis

Eviera Paramita Sandi | Muhammad Yasir

Jum'at, 31 Januari 2025 | 17:00 WIB

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kementerian dan lembaga menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN 2025. Efisiensi anggaran yang ditargetkan mencapai Rp306,6 triliun itu rencananya akan dialokasikan untuk membiayai program-program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Perintah Prabowo itu tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD 2025 yang diterbitkan pada 22 Januari 2025. Efisiensi atas anggaran belanja negara tahun 2025 senilai Rp306,6 triliun tersebut terdiri atas: anggaran belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp256,1 triliun serta transfer ke daerah atau TKD sebesar Rp50,5 triliun.

Dalam Inpres itu Prabowo memerintahkan para menteri dan kepala lembaga segara melakukan identifikasi rencana efisiensi belanja sesuai besaran yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tersebut. Identifikasi rencana efisiensi belanja kementerian dan lembaga meliputi belanja operasional dan non operasional seperti; belanja operasional perkantoran, belanja pemeliharaan, perjalanan dinas, bantuan pemerintah, pembangunan infrastruktur, serta pengadaan peralatan dan mesin.

“Identifikasi rencana efisiensi tidak termasuk belanja pegawai dan belanja bantuan sosial,” tulisnya.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi tak menampik efisiensi belanja negara ini dilakukan demi memenuhi pembiayaan program-program prioritas pemerintah. Satu di antaranya adalah program MBG yang ditargetkan pada tahun ini mencakup 82,9 juta penerima.

“Dari hasil penghematan kemarin kita lakukan ada kemungkinan juga diprioritaskan untuk program MBG," ungkap Prasetyo.

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka (kiri) memantau pelaksanaan pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 60 Jakarta, Kemang Timur, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (20/1/2025). ANTARA/HO-BPMI Setwapres.
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka (kiri) memantau pelaksanaan pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 60 Jakarta, Kemang Timur, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (20/1/2025). ANTARA/HO-BPMI Setwapres.

Butuh Tambahan Anggaran

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana sebelumnya meminta tambahan anggaran sebesar Rp100 triliun untuk program MBG. Tambahan anggaran itu diperlukan untuk memenuhi keinginan Prabowo yang menargetkan 82,9 juta penerima program MBG tercapai pada tahun ini. Sementara anggaran awal sebesar Rp71 triliun yang dialokasikan untuk MBG menurutnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan 15-17,5 juta penerima manfaat.

“Karena Pak Presiden ingin melakukan percepatan-percepatan, maka dibutuhkan tambahan biaya,” ungkapnya.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut tujuan efisiensi belanja negara salah satunya memang untuk mendanai program prioritas dan proyek pemerintah yang memiliki dampak langsung kepada masyarakat. Termasuk program MBG yang dinilai membutuhkan anggaran besar.

Sekalipun membutuhkan anggaran besar, Sri Mulyani menilai penambahan anggaran program MBG sebesar Rp100 triliun juga akan memiliki dampak positif yang berganda. Khususnya bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM.

“Ini bisa menimbulkan efek berganda yang luar biasa bagi usaha kecil dan menengah di seluruh Indonesia,” kata Sri Mulyani saat menghadiri acara BRI Microfinance Outlook 2025 di Tangerang, Banten, Kamis (30/1/2025).

Menkeu Sri Mulyani bersama para menteri dan Presiden Prabowo di Inggris. (Instagram)
Menkeu Sri Mulyani bersama para menteri dan Presiden Prabowo di Inggris. (Instagram)

Dalam pelaksanaannya, Sri Mulyani mengaku telah meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mendorong lembaga keuangan untuk turut mendukung program ini.

Lembaga keuangan tersebut diharapkan dapat memberikan akses kredit kepada perusahaan termasuk UMKM yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG agar bisa memenuhi kebutuhan modal kerja dan produksi.

“Kami akan terus mendukung, mulai dari Badan Gizi Nasional (BGN) maupun kementerian/lembaga lain, untuk terus menyesuaikan programnya guna menjamin MBG berjalan dengan baik, menciptakan pemerataan, dan tata kelolanya kuat,” katanya.

Perlu Mitigasi

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mempertanyakan konsistensi Prabowo dalam melakukan efisiensi anggaran belanja negara.

Sebab visi efisiensi sebagaimana tertuang dalam Inpres itu menurutnya bertolak belakang jika melihat kebijakannya di awal yang justru menambah jumlah kementerian dari 34 menjadi 48.

“Sebenarnya visi efisiensi yang disampaikan oleh Presiden Prabowo tidak konsisten dengan langkah atau kebijakan yang diambil. Misalnya kalau kita melihat kebijakan Presiden Prabowo menambah jumlah kementerian dan lembaga, tentu ini justru memberikan efek terhadap tambahan anggaran,” kata Rendy kepada Suara.com, Jumat (31/1/2025).

Menurut Rendy, kebijakan penghematan atau atau efisiensi anggaran belanja negara serupa dengan ini sebenarnya juga pernah dilakukan Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada 2016.

“Apakah kemudian ini akan menjadi keputusan yang tepat? Kita tentu perlu menunggu. Namun kalau kita belajar dari pengalaman keputusan untuk melakukan penghematan ataupun budgeting di masa lalu itu memberikan efek terhadap tekanan belanja pemerintah secara umum,” jelasnya.

Karena itu, Rendy menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi jika kebijakan ini nantinya dirasa tidak sesuai target. Selain juga harus mempertimbangkan dampak perekonomian yang timbul akibat kebijakan tersebut.

“Sehingga saya rasa perlu ada semacam tahapan evaluasi ketika target  itu tidak terjadi maka pemerintah juga sudah harus siap dengan proses mitigasi yang akan dilakukan,” tuturnya


Terkait

Prabowo: Pangkat TNI-Polri Adalah Titipan Rakyat, Bukan Hak!
Jum'at, 31 Januari 2025 | 15:00 WIB

Prabowo: Pangkat TNI-Polri Adalah Titipan Rakyat, Bukan Hak!

Prabowo juga menyebut rakyat menuntut TNI-Polri untuk memberikan pengabdian dan dedikasi setinggi-tingginya.

Kebijakan Efisiensi Presiden Prabowo Pada Anggaran dan Belanja Pemerintah Diapresiasi
Jum'at, 31 Januari 2025 | 15:10 WIB

Kebijakan Efisiensi Presiden Prabowo Pada Anggaran dan Belanja Pemerintah Diapresiasi

Presiden Prabowo Subianto yang ingin melakukan efesiensi anggaran belanja dalam sistem pemerintahan.

Siswa SMP Sebut Menu Makan Bergizi Gratis Tak Enak, Publik Sentil Deddy Corbuzier: Awas Dikatain Sama Letkol Lu..
Jum'at, 31 Januari 2025 | 14:55 WIB

Siswa SMP Sebut Menu Makan Bergizi Gratis Tak Enak, Publik Sentil Deddy Corbuzier: Awas Dikatain Sama Letkol Lu..

Dari deretan siswa yang menerima makan siang, seorang siswa dengan tegas mengaku jika menu Makan Bergizi Gratis tidak enak.

Terbaru
Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?
polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

×
Zoomed