Membaca Makna Simbol Banteng Ketaton di Balik Pemecatan Jokowi sebagai Kader PDIP
Home > Detail

Membaca Makna Simbol Banteng Ketaton di Balik Pemecatan Jokowi sebagai Kader PDIP

Wakos Reza Gautama | Muhammad Yasir

Rabu, 18 Desember 2024 | 16:05 WIB

Suara.com - Simbol banteng ketaton di hari “pengusiran” Joko Widodo (Jokowi) dan keluarga dari ‘kandang banteng’ menggambarkan suasana kebatinan para kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP): Terluka dan marah!

“Merdeka!” pekik Ketua Bidang Kehormatan DPP PDIP, Komarudin Watubun, disambut teriakan yang sama serentak dari puluhan kader PDIP yang berbaris di belakangnya, Senin (16/12/2024).

Duduk mendampingi Komarudin; Ketua Bappilu PDIP Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, Ketua DPP PDIP Said Abdullah dan Bendahara Umum PDIP Olly Dondokambey.

Di belakang mereka terpampang latar belakang gambar seekor banteng putih bermata merah dengan kondisi tertusuk anak panah. Simbol banteng ketaton atau banteng terluka itu semakin mencolok dengan latar bendera merah putih yang berkibar.

Hari itu, PDIP secara resmi mengumumkan pemecatan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi beserta anak dan menantunya, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Afif Nasution dari keanggotaan partai.

Pakar Semiotika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Acep Iwan Saidi menilai, latar belakang gambar banteng ketaton yang digunakan PDIP saat mengumumkan pemecatan Jokowi, Gibran dan Bobby, merupakan kode semiotis.

Istilah banteng ketaton diartikan sebagai banteng terluka terkena senjata. Menurut Acep, ini adalah simbolisasi sikap melawan atau mempertahankan diri dengan gigih. Sedangkan menurut pepindhan dalam Bahasa Jawa, banteng ketaton juga memiliki arti berani mati tanpa rasa takut.

"Ketika banteng luka tersebut dijadikan image background PDIP saat mengumumkan pemecatan Jokowi, pesan sangat jelas: PDIP sangat terluka dan karena itu sekaligus marah. Ini adalah kode semiotis yang sangat eksplisit untuk Jokowi," kata Acep kepada Suara.com, Selasa (17/12/2024).

Selain menyoroti simbol banteng ketaton, Acep turut menggarisbawahi kata 'saudara' yang dipakai Komarudin saat mengumumkan pemecatan Jokowi. Ia memaknai perubahan panggilan 'bapak' menjadi 'saudara' tersebut sebagai bentuk pengusiran.

"Perubahan panggilan ini menjadi semacam “pengusiran”, setidaknya penegasan bahwa Anda (Jokowi) sudah bukan keluarga kami," jelasnya.

PDIP bukan kali ini saja memunculkan simbol banteng ketaton. Saat menggelar Rapat Kerja Nasional atau Rakernas V di Ancol, Jakarta Utara pada 24 Mei 2024 lalu, PDIP memajang patung banteng ketaton yang diberi judul 'Banteng Tegar Walau Dipanah'. Karya seni dari Badan Kebudayaan Nasional atau BKN PDIP itu turut menarik perhatian Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Ganjar Pranowo calon presiden yang diusung PDIP pada Pilpres 2024 juga sempat melontarkan istilah banteng ketaton saat berziarah ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, pada 3 November 2023 lalu.

Mantan Gubernur Jawa Tengah itu menggunakan istilah banteng ketaton sebagai bentuk penekanan terhadap pihak-pihak yang hendak memecah belah PDIP.

"Barang siapa memecah partai ini anda berlawanan dengan banteng. Banteng ketaton itu tidak pernah cengeng. Dia akan keras," tutur Ganjar.

Sementara itu Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menyebut pemecatan Jokowi yang diumumkan secara resmi ini mengafirmasi bahwa PDIP sebagai partai politik yang memiliki ketegasan.

Selain itu juga memberikan kesan minor dan peringatan kepada partai-partai politik lain untuk hati-hati jika menerima Jokowi.

"Pemecatan ini setidaknya memberikan pesan bahwa Pak Jokowi tidak sebaik yang dibayangkan oleh elit ataupun publik kita. Dia punya masalah soal etik, disiplin partai dan melanggar AD/ART partai sebagai alasan utama kenapa dipecat," jelas Agung kepada Suara.com, Rabu (18/12/2024).

Menurut Agung langkah PDIP yang baru mengumumkan pemecatan Jokowi setelah Pilpres, Pileg dan Pilkada juga bukan tanpa sebab.

"Pertimbangan PDIP memecat Pak Jokowi baru sekarang karena sudah bukan lagi presiden. Kekuasaannya tidak sebesar dulu yang bisa memengaruhi, mengganggu, ataupun mengancam resistensi PDIP sebagai partai," imbuhnya.

Alasan PDIP Pecat Jokowi

Dalam Surat Keputusan Nomor: 1649/KPTS/DPP/XII/2024 dijelaskan beberapa pertimbangan yang mendasari PDIP memecat Jokowi. Sebagai kader, Jokowi dinilai telah melanggar AD/ART serta Kode Etik dan Disiplin Partai.

Pada Pilpres 2024 lalu ketika masih menjabat sebagai presiden, Jokowi diketahui mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Dukungan itu dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap keputusan PDIP yang mencalonkan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

"Serta telah menyalahgunakan kekuasaan untuk mengintervensi Mahkamah Konstitusi yang menjadi awal rusaknya sistem demokrasi, sistem hukum, dan sistem moral-etika kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan pelanggaran etik dan disiplin partai, dikategorikan sebagai pelanggaran berat," tulisan di dalam surat tersebut.

Ketua DPP PDIP, Deddy Yevri Sitorus menjelaskan alasan di balik partainya yang baru mengumumkan pemecatan terhadap Jokowi. Ia mengklaim hal itu semata-mata demi menjaga martabat Jokowi.

Selain itu, pemecatan Jokowi, Gibran, Bobby dan 24 kader PDIP baru diumumkan karena pihaknya baru bisa mengumpulkan pimpinan partai dari seluruh provinsi untuk mengevaluasi kader-kader yang melakukan pelanggaran aturan partai.

Pemecatan besar-besaran ini juga dilakukan berkaitan dengan pelanggaran etik yang dilakukan kader dalam Pilkada Serentak 2024. Sebagian besar mereka yang dipecat merupakan kader yang maju sebagai calon kepala daerah dengan dukungan partai lain.

"Jadi proses ini bukan khusus hanya soal Jokowi dan keluarga tetapi kader-kader di seluruh Indonesia," ungkap Deddy kepada Suara.com, Senin (16/12/2024).

Ditemui di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, pada Selasa, 17 Desember 2024 atau sehari setelah dipecat PDIP, Jokowi memberikan tanggapan santai. Ia mengaku menghormati keputusan partai yang telah membesarkan namanya sejak 2004.

"Ya nggak apa-apa, saya menghormati itu," kata Jokowi. Sejurus kemudian, mantan Wali Kota Solo itu menyebut waktu yang akan menguji keputusan itu.

"Saya tidak dalam posisi membela atau memberikan penilaian, karena sudah diputuskan. Nanti waktu yang akan mengujinya," pungkasnya.


Terkait

Cek Fakta: KPK Panggil Keluarga Jokowi
Rabu, 18 Desember 2024 | 14:43 WIB

Cek Fakta: KPK Panggil Keluarga Jokowi

HOAX! Video "KPK panggil keluarga Jokowi" adalah manipulasi. Isi video tak relevan, foto sampul editan berita lama, & tak ada sumber kredibel.

Jokowi Diusulkan Jadi Ketum PPP, Rommy Bilang Begini
Rabu, 18 Desember 2024 | 14:13 WIB

Jokowi Diusulkan Jadi Ketum PPP, Rommy Bilang Begini

Rommy menyampaikan, jika dirinya seminggu lalu bertemu langsung dengan Jokowi

Yasonna Dipanggil KPK, PDIP: Akhir-akhir Ini Banyak Serangan ke Partai Kami Jelang Kongres
Rabu, 18 Desember 2024 | 10:36 WIB

Yasonna Dipanggil KPK, PDIP: Akhir-akhir Ini Banyak Serangan ke Partai Kami Jelang Kongres

Ia kemudian mengaitkan pemanggilan Yasonna dengan rencana kongres yang akan digelar tahun depan.

Terbaru
Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M
polemik

Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:28 WIB

Menyusuri Song Wat di Bangkok, dengan suasana yang mengingatkan pada Blok M, tempat masa lalu dan gaya hidup baru bertemu.

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

×
Zoomed