Prabowo Bentuk Kemendiktisaintek, Nasib BRIN Menggantung
Home > Detail

Prabowo Bentuk Kemendiktisaintek, Nasib BRIN Menggantung

Erick Tanjung | Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Kamis, 31 Oktober 2024 | 17:21 WIB

Suara.com - PRESIDEN Prabowo Subianto memecah sejumlah kementerian, salah satunya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kemendikbudristek di era Presiden Joko Widodo ini dipecah menjadi tiga kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah; Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi; serta Kementerian Kebudayaan.

Dipecahkan kementerian itu berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan dengan kementerian lain. Contohnya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

BRIN dibentuk pada 2019, periode kedua Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Awalnya lembaga itu bagian dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), tapi menjadi badan tersendiri pada 2021 setelah Jokowi menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2021. Sebagai badan, BRIN bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Lewat aturan itu, BRIN menjadi lembaga riset satu-satunya. Lembaga seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN); serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dilebur ke BRIN.

Dengan terbentuknya Kemendiktisaintek, bagaimana nasib BRIN ke depan. Pasalnya, kedua lembaga tersebut memiliki kewenangan dan tugas yang sama.

Sumber Suara.com dari seorang pegawai di lingkungan BRIN mengaku risau dengan nasibnya ke depan. Menurut dia, tidak mungkin ada 'matahari kembar' pada lembaga penelitian di Indonesia.

"Jadi secara umum memang kami itu sedang galau dan gelisah soal posisi BRIN itu mau di kemanakan," kata sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut kepada Suara.com, Rabu (30/10/2024).

Belum jelasnya keberadaan BRIN ke depan di era Pemerintahan Prabowo Subianto. Apalagi, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko tidak diundang dalam agenda retreat Kabinet Merah Putih Prabowo Subianto di Akmil, Magelang beberapa waktu lalu.

Desas-desus pun bermunculan. Di antaranya kemungkinan direktorat-direktorat di BRIN akan digabung ke Kemendiktisaintek. Isu lainnya, BRIN akan kembali dipecah menjadi unit kecil seperti sedia kala, yakni LIPI, LAPAN, dan BATAN.

Selain itu, menurut dia, nasib BRIN ke depan juga ditentukan hubungan politik Prabowo dengan PDI Perjuangan.

"Tergantung pada negosiasi politik tingkat tinggi antara Prabowo dengan PDIP. Apakah memang nanti PDIP masuk ke kabinet atau enggak," ujar dia.

Sebagaimana diketahui, BRIN dibentuk berdasarkan usulan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Megawati pun menjabat sebagai ketua dewan pengarah BRIN.

Sejauh ini belum ada tanda-tanda hubungan akan terjalin antara PDIP dengan pemerintahan Prabowo. Meski sempat santer terdengar kabar rencana pertemuan antara Megawati sebelum Prabowo dilantik sebagai presiden. Namun sampai saat ini pertemuan keduanya tak kunjung terlaksana.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Megawati Soekarnoputri menitipkan pesan kepada para pelajar yang ada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (8/8/2024). (Foto dok. Brin)
Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Megawati Soekarnoputri. (Foto dok. Brin)

Wamendiktisaintek, Stella Christie mengatakan sampai saat ini Kemendiktisaintek masih terpisah dengan BRIN. Pemisahan itu agar kedua lembaga bisa menghasilkan inovasi guna memperkuat sains dan teknologi di Indonesia. Stella pun memastikan kementeriannya tetap mendukung BRIN dalam kerja-kerja pengembangan sains dan teknologi.

Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN Mego Pinandito pada 28 Oktober lalu mengatakan, hingga saat ini lembaganya masih menunggu keputusan dari Prabowo. Mengingat adanya kemiripan wewenang dan tugas antara BRIN dengan Kemendiktisaintek.

"Ya terkait dengan konsep perubahan itu kami juga sebagai bagian dari pemerintah menunggu keputusan dari presiden saja seperti apa," kata Mego.

Suara.com, telah berupaya menghubungi Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menanyakan nasib lembaga yang ia pimpin ke depan. Namun, hinga berita ini tayang yang bersangkutan belum memberikan jawaban. Begitu pula dengan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Hasbi juga belum merespons pertanyaan terkait rencana presiden terhadap BRIN.

Pemisahan Jalur

Pengamat kebijakan publik yang sedang tudi di Australian National University, Hali Aprimadya turut mempertanyakan bagaimana nasib BRIN setelah terbentuknya Kemendiktisaintek. Meski terbentuknya kementerian itu membuka babak baru pengelolaan pengetahuan di Indonesia.

Dalam artikelnya yang diterbitkan di The Conversation berjudul "Menilik nasib BRIN serta babak baru pengembangan sains dan riset di bawah pimpinan Prabowo-Gibran," Hali mengusulkan pembagian peran antara BRIN dengan Kemendiktisaintek.

"Dalam tata kelola sektor publik, pembentukan lembaga dengan tujuan lebih spesifik bisa diibaratkan seperti pemisahan jalur di jalan raya," kata Hali dikutip Suara.com.

Menurut Hali, dengan membagi jalur antara kendaraan cepat dan lambat, perjalanan menjadi lebih lancar. Hal yang sama juga akan terjadi dengan pemisahan peran dalam kementerian guna mencapai target yang lebih fokus dan efektif.

Fungsi sains dan teknologi yang melekat harus membuat Kemendiktisaintek menangani kebijakan pendidikan tinggi, sekaligus sains dan teknologi. Karena itu, Kemendiktisaintek harus mendapatkan dukungan sumber daya yang memadai.

"Idealnya, Kemendiktisaintek berperan sebagai pembuat kebijakan dan menjalankan fungsi koordinasi yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan pengembangan sains dan teknologi. Sementara BRIN dan perguruan tinggi, bisa bertindak sebagai pelaksana riset dan inovasi," jelasnya.

Terbaru
Ide Kreatif Dinilai Rp 0, Bedah Kasus Amsal Sitepu Jadi Terdakwa Gegara Video Profil Desa
polemik

Ide Kreatif Dinilai Rp 0, Bedah Kasus Amsal Sitepu Jadi Terdakwa Gegara Video Profil Desa

Selasa, 31 Maret 2026 | 17:51 WIB

Amsal Sitepu dituntut pidana dua tahun penjara, denda Rp 50 juta, serta kewajiban membayar uang pengganti

Menavigasi Pergeseran Pengaruh: Kenapa Orang Indonesia Mulai "Jatuh Cinta" pada China? polemik

Menavigasi Pergeseran Pengaruh: Kenapa Orang Indonesia Mulai "Jatuh Cinta" pada China?

Senin, 30 Maret 2026 | 23:50 WIB

Sentimen positif masyarakat Indonesia terhadap China naik tajam berkat faktor ekonomi, strategi soft power, serta narasi pro-Beijing yang masif di media sosial.

4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya? polemik

4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya?

Rabu, 18 Maret 2026 | 18:42 WIB

Keempat prajurit yang kini berstatus tersangka tersebut memiliki inisial NDP, SL, BHW, dan ES. Saat ini, mereka telah ditahan di Pomdam Jaya

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS? polemik

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS?

Rabu, 18 Maret 2026 | 16:17 WIB

Banyak pihak meyakini ini adalah serangan teror yang ditujukan langsung untuk membungkam suara kritis Andrie dan para pembela hak asasi manusia

Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi? polemik

Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi?

Senin, 16 Maret 2026 | 19:29 WIB

Upaya Gus Yaqut lolos dari jerat hukum sempat kandas setelah permohonan praperadilannya ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah? polemik

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah?

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:33 WIB

Dalam tradisi komunikasi, khususnya di lingkungan militer, taklimat adalah sebuah instruksi yang bersifat teknis, padat, dan sangat strategis

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos? polemik

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos?

Senin, 09 Maret 2026 | 19:36 WIB

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas anak di internet semakin tinggi, sementara risiko yang mereka hadapi juga semakin kompleks

×
Zoomed