Cadar Tak Melunturkan Nasionalismeku, Pengakuan Perempuan Eks PNS
Home > Detail

Cadar Tak Melunturkan Nasionalismeku, Pengakuan Perempuan Eks PNS

Reza Gunadha | Erick Tanjung

Selasa, 19 November 2019 | 07:15 WIB

Suara.com - Belum genap sebulan menjabat, Menteri Agama RI Fachrul Razi melontarkan wacana melarang penggunaan cadar di instansi pemerintahan. Ide itu segera menjadi polemik. Tapi jauh sebelum riuh, perempuan bercadar berstatus PNS juga sudah susah.

“BU, NANTI KALAU KITA BERTEMU, sapa-sapa ya,” tutur Syaidah kepada rekan sekerjanya.

Lha, gimana mau menyapa, mukamu ditutup begitu, ya gak kenal lah,” jawab perempuan yang dipanggil Syaidah sebagai ibu itu.

“Nanti saya towel bu,” balas Syaidah, tapi cuma berani berkata dalam hati. Dia tak sampai hati berkonfrontasi.

Syaidah, begitu perempuan tersebut ingin disapa, bertahun-tahun menjadi pegawai negeri sipil di salah satu lembaga penegakan hukum Indonesia.

Mulanya, semua berjalan baik-baik saja. Namun, sejak tahun 2016, ia memutuskan untuk mengenakan cadar yang dianggapnya tepat untuk mengekspresikan keyakinan.

Sadar menggunakan cadar masih belum lazim di lingkungan kantor, Syaidah awalnya memilih untuk melepas kain penutup muka saat bekerja.

Setahun kemudian, 2017, ia semakin merasa tak lagi perlu mengekang kebebasan berekspresinya sendiri, sehingga mengukuhkan sikap untuk menutup wajah saat berada di kantor.

Tapi, supaya tidak mencolok dan menuai kontroversi, Syaidah memilih jalan tengah, yakni menutup wajah memakai masker.

Memakai masker sebagai ganti kain cadar, tetap menuai kecurigaan dari rekan-rekannya di kantor. Sebab, Syaidah tak pernah melepas masker selama bekerja hingga pulang.

Artis bercadar. (istimewa)
bercadar. (istimewa)

“Kenapa saya memilih masker? Itu untuk menghindari konflik tentang apa yang saya pakai di kantor,” kata Syaidah, pekan lalu.

“Apakah ibu merasa itu sebagai sikap mendiskriminasi?” tanya saya.

“Ini bisa dibilang diskriminasi, bisa juga tidak. Ya fitrahnya, pasti akan terjadi hal demikian kalau kita berbeda,” Syaidah menjawab diplomatis.

Sejak memutuskan bercadar, Syaidah banyak tidak dilibatkan dalam perjalanan-perjalanan kedinasan. Tak juga banyak dilibatkan saat kegiatan-kegiatan yang bersifat performatif.

Ia merasa banyak rekan kerja yang antipati, dan peluang untuk mendapat jabatan, stagnan. “Tapi secara umum, instansi saya begitu baik dan welcome, menerima saya.”

Atasannya tak pernah menyinggung tentang cara Syaidah berpakaian. Namun, ada pejabat lain yang sempat menegur atasannya untuk menegur Syaidah. Atasan Syaidah berkukuh, tak mau mengikuti saran tersebut.

“Kalau rekan sekerja?” kata saya.

“Tidak ada sih. Cuma beberapa orang yang secara langsung maupun tidak langsung menyampaikan, hati-hati beragama, jangan berlebihan. Jangan-jangan nanti masuk aliran sesat he-he-he.”

Sesat pikir

“PAK, SAYA MAU RESIGN. Pengin mengurus rumah tangga saja,” kata Syaidah kepada atasannya, tiga bulan lalu.

Sang atasan terkaget-kaget, “Lho, kenapa? Bukan karena cadar kan?”

“Bukan pak,” cepat-cepat Syaidah menjawab.

“Kalau karena cadar, jangan sampai berhenti lah,” si atasan mendesak.

Bener pak, bukan soal cadar.”

“Begini, begini, kalau soal cadar, kita cari win-win solutionnya ya,” kata sang atasan.

“Tidak pak, bukan karena cadar. Saya mau urus rumah tangga. Saya merasa banyak mengambil hak suami dan banyak berutang pengasuhan kepada anak.”

“Bener lho ya,” si atasan masih belum puas.

“Benar pak. Lagi pula, alasan utama saya adalah karena perintah Allah, sebaik-baiknya wanita adalah di rumah,” kata Syaidah memungkasi desakan atasan.

Selang tiga bulan, kala Syaidah sudah disibukkan mengurus anak dan rumah tangga, Menteri Agama RI Fachrul Razi melontarkan wacana agar tidak ada yang menggunakan cadar di lingkungan instansi pemerintah.

Wacana itu diskriminatif menurut Syaidah. Kalaupun jadi dilarang, alasannya sangat lemah. Cadar ataupun celana cingkrang, tak lagi bisa diidentikkan dengan agama tertentu, apalagi distigma radikal.

“Lihat saja, anak-anak milenial banyak bercelana cingkrang. Pak menteri tidak update soal mode kekinian,” kata Syaidah.

Ide itu, yang kekinian sudah diterapkan di Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, juga dinilai Syaidah tak tepat karena hanya sedikit perempuan PNS bercadar.

Tapi, Syaidah mengakui bisa jadi banyak perempuan PNS yang sebenarnya bercadar tapi tak bisa terang-terangan saat di tempat kerja, seperti dia dulu.

“Setahu saya, sewaktu masih menjadi PNS, lembaga yang cukup terbuka untuk pengguna cadar hanya Kementerian Keuangan,” tukas Syaidah.

Sekelompok wanita berlatih langkah-langkah prosesi pemakaman berdasarkan Alquran dan Sunnah di Masjid Al-Muttaqin di Jakarta, Indonesia pada tanggal 7 Januari 2018. Komunitas ini bertujuan untuk mengatasi prasangka terhadap stigma wanita bercadar yang buruk sebagai ekstremis dan teroris. [Anadolu Agency/Anton Raharjo]
Sekelompok wanita berlatih langkah-langkah prosesi pemakaman berdasarkan Alquran dan Sunnah di Masjid Al-Muttaqin di Jakarta, Indonesia pada tanggal 7 Januari 2018. Komunitas ini bertujuan untuk mengatasi prasangka terhadap stigma wanita bercadar yang buruk sebagai ekstremis dan teroris. [Anadolu Agency/Anton Raharjo]

Selain itu, menstigma cadar sebagai simbolisasi paham radikalisme kanan juga dinilai Syaidah ngawur. Memang banyak yang menyembunyikan kejahatan di balik cadar, namun bukan berarti mengurangi nilai niqab itu sendiri.

Syaidah mengakui, menjadi perempuan bercadar masih sulit di tengah masyarakat, meski sudah banyak yang mengenakannya.

Banyak perempuan bercadar masih didiskriminasi, baik di antara teman-teman, lingkungan, pun keluarga sendiri.

“Jadi, pemerintah tak perlu pula semakin menyusahkan kami dengan mencap cadar sebagai simbol radikal,” pintanya.

Tidak Pancasilais?

“AWAS NINJA, NINJA, ada ninja lewat,” kata seorang pemuda saat Indadari Mindrayanti saat memasuki masjid.

Lain waktu, ketika Indadari melintas, ada yang menceletuk, “Wuih… ada Batman lewat.”

Seiring ramai isu terorisme, orang-orang bercadar seperti Indadari banyak mendapat intimidasi. Mendapat sorakan yang mengina, sudah menjadi hal biasa baginya.

“Pernah disoraki sebagai ninja, batman, bahkan setan. Saya masuk minimarket, orang sekitar seperti merasa terancam, wajah mereka seperti ketakutan, khawatir. Biasa itu,” keluh Indadari kepada saya.

Indadari adalah Founder Niqab Squad, komunitas perempuan-perempuan bercadar di Jakarta. Menurutnya, nada-nada sumbang publik justru membuat perempuan bercadar melakukan otokritik.

Melalui komunitasnya, Indadari selalu mewanti-wanti agar para pemakai cadar tak lagi bersikap eksklusif di tengah masyarakat.

“Stigma seperti itu kan karena warga belum banyak tahu soal apa itu cadar dan nilai-nilainya. Kami harus ramah kepada mereka,” kata dia.

Indadari menuturkan, ada anggota komunitasnya yang berstatus PNS alias ASN, meski jumlahnya sedikit. Karenanya, dia menyayangkan adanya wacana melarang PNS bekerja mengenakan cadar di kantor.

Menurutnya, kebijakan itu sangat diskriminatif dan melanggar UUD 1945. Mengenakan cadar adalah hak berekspresi. Soal berekspresi, dilindungi oleh konstitusi.

Desainer pakaian muslimah dan hijab ini menyarankan agar pemerintah lebih bijak dalam menyikapi ASN yang bercadar. Jangan langsung melarang, namun memberikan solusi yang tepat dan tidak diskriminatif.

Menurut dia, paling banyak dalam sebuah kantor institusi pemerintah itu yang mengenakan cadar hanya satu atau dua orang.

Bisa saja PNS bercadar ditugaskan di balik meja, yang tidak berhubungan dengan pelayanan publik secara langsung.

Indadari juga menyatakan tidak setuju terhadap asumsi PNS bercadar tidak memunyai rasa Nasionalisme maupun Pancasilais.

“Anggota Niqab Squad ada yang menjadi guru SD, padahal gajinya kecil banget, tapi dia setia mengajar. Itu karena mereka mengabdi untuk bangsa dan negara.”


Terkait

Ketua Muhammadiyah: Hijrah Kadang Berlebihan, Cadar Bukan Syariat Islam
Sabtu, 16 November 2019 | 16:28 WIB

Ketua Muhammadiyah: Hijrah Kadang Berlebihan, Cadar Bukan Syariat Islam

Haedar mengungkapkan, fenomena hijrah yang berlebihan sebenarnya melanda masyarakat dari latar belakang ekonomi menengah ke atas.

Jadi Desainer Busana Muslim, Oki Setiana Dewi: Negara Butuh Menerima Cadar
Jum'at, 15 November 2019 | 17:26 WIB

Jadi Desainer Busana Muslim, Oki Setiana Dewi: Negara Butuh Menerima Cadar

Oki Setiana Dewi berharap pemerintah mampu menerima penggunaan cadar bagi muslimah.

Pelaku Bom Disebut Geram Wacana Menag Larang Cadar dan Celana Cingkrang
Rabu, 13 November 2019 | 17:16 WIB

Pelaku Bom Disebut Geram Wacana Menag Larang Cadar dan Celana Cingkrang

"Bom di Polrestabes Medan terkait dengan kemarahan terhadap ucapan Menag tentang cadar dan celana cingkrang..."

Radikalisme dan Celana Cingkrang, Wapres: Garuk itu di Tempat yang Gatal
Jum'at, 08 November 2019 | 20:33 WIB

Radikalisme dan Celana Cingkrang, Wapres: Garuk itu di Tempat yang Gatal

"Tapi prinsipnya itu sumber masalahnya. Supaya kalau kita menggaruk itu di tempat yang gatal. Jangan digaruk bukan di tempat yang tak gatal," kata dia.

Terbaru
Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?
polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing" polemik

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing"

Senin, 18 Mei 2026 | 22:10 WIB

Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna? video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara polemik

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara

Jum'at, 15 Mei 2026 | 22:05 WIB

Inilah realitas baru demokrasi di sekitar kita, tidak saja seperti yang telah berlangsung di Indonesia, tapi kini juga dipraktikkan di negara Asia Tenggara seperti Filipina.

×
Zoomed