Suara.com - Svetlana Dayani adalah putri sulung Njoto, petinggi Partai PKI. Ia menceritakan kisah hidupnya dalam penjara Orde Baru, Svetlana juga menyaksikan sendiri banyak penyiksaan tahanan mulai dari disundut rokok, dipecut hingga disiksa. Menjadi seorang anak gembong PKI, tak membuat Svetlana menyesal sama sekali. Namun, sampai sekarang ia tak mengetahui nasib ayahnya entah masih hidup atau sudah dibunuh dan dikubur. Dalam liputan khusus kali ini, ia membeberkan pengalaman hidupnya mulai dari perjuangannya menyembunyikan identitas diri hingga ia merasa diasingkan di negerinya sendiri. Selengkapnya simak dalam videonya diatas.
Creative/Videografer/Video Editor: Gabriella Efania/Dendi Afriyan/Heriyanto
Kontributor : Abdus Somad
Di balik sejarah yang tercatat di buku pelajaran, sering kali tersimpan pertentangan kepentingan, keputusan politik, dan rangkaian kejadian yang terus memunculkan perdebatan.
Di tengah gempuran konten digital, film Pengkhiatanan G30S/PKI tetap berdiri kokoh sebagai sebuah monumen sinematik yang provokatif sekaligus ikonik.
Tragedi G30S/PKI menewaskan enam jenderal dan satu perwira TNI AD di Lubang Buaya. Mereka dikenang sebagai Pahlawan Revolusi yang mengubah arah sejarah Indonesia.
G30S/PKI adalah peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat pada 30 Sept 1965, yang berujung pada kejatuhan Soekarno dan lahirnya Orde Baru.
Narasi di media sosial menunjuk GRIB sebagai pembunuh pedagang cermin di Pejompongan. Tapi rekaman video amatir menunjukkan hal berbeda, polisi lah yang menyeroyok Bambang.
polemik
Menyusuri Song Wat di Bangkok, dengan suasana yang mengingatkan pada Blok M, tempat masa lalu dan gaya hidup baru bertemu.
polemik
Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.
polemik
Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.
polemik
MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi
polemik
Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran
polemik
Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian