Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
Home > Detail

Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026

Tim Liputan Khusus

Rabu, 30 September 2026 | 13:10 WIB

Suara.com - Seorang pedagang cermin tewas dikeroyok di Pejompongan saat aksi massa berakhir bentrok. Setengah jam sebelumnya, satu pemuda dipukuli dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Rekaman berkata lain, memperlihatkan sejumlah orang di sekitar kedua korban pernah terlihat bersama kelompok polisi malam itu. 

“BAWA AJA! BAWA! BAWA! SERET!”

Suara itu terdengar dari Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis malam, 27 Agustus 2026. Sekelompok orang berpakaian hitam mengepung seorang pria. Mereka menarik tubuhnya. Menyeretnya ke jalan. Beberapa orang memukulinya memakai tongkat kayu.

Korban adalah Bambang Setiawan, 59 tahun, pedagang cermin. Malam itu, sekitar pukul 23.30 WIB, ia menjadi sasaran pengeroyokan di tengah kericuhan yang terjadi setelah demonstrasi di DPR.

Bambang tak sendiri.

Sekitar 30 menit sebelumnya, seorang pemuda 18 tahun bernama Faturrohman mengalami nasib serupa.

Fatur sedang duduk dalam gang dekat rumahnya di Pejompongan, ketika sekelompok orang mengaku intel kepolisian mendatanginya. Ia ditarik keluar, dipukuli, lalu diseret menuju kawasan DPR.

Di sana, Fatur dipaksa mengaku sebagai provokator demonstrasi. Ia lalu dibawa ke Polda Metro Jaya.

Narasi yang beredar di media sosial, pelaku pengeroyokan Bambang dan Fatur disebut-sebut sebagai massa Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu atau GRIB Jaya.

GRIB memang turun ke jalan malam itu. Kelompok massa dari organisasi tersebut terlihat bergerak setelah demonstrasi 27 Agustus berakhir. Hercules alias Rosario de Marshall dikabarkan memimpin langsung pergerakan mereka.

Sejumlah video amatir juga merekam massa berbaju hitam yang diduga kelompok GRIB mengejar dan memukuli orang-orang di sekitar Slipi, Jakarta Barat.

Tapi, Bambang dan Fatur dikeroyok bukan di Slipi.

Mereka berada di Pejompongan, Jakarta Pusat. Jaraknya sekitar dua kilometer dari lokasi terakhir massa GRIB yang terekam.

Lantas, siapa orang-orang berbaju hitam yang menyeret Bambang dan Fatur?

Pertanyaan itu membawa kami menelusuri ulang malam tersebut: dari rekaman video, kesaksian warga, waktu kejadian, hingga pergerakan kelompok yang berada di sekitar Pejompongan.

Tanpa menampik kekerasan yang dilakukan GRIB di Jakarta Barat, hasil penelusuran kami menemukan petunjuk berbeda.

Orang-orang yang mengeroyok Bambang dan Fatur diduga kuat bukan massa GRIB. Mereka diduga merupakan aparat kepolisian. Bagaimana kami menemukan itu?

Polisi Berpakaian Hitam

MALAM belum terlalu larut ketika orang-orang berpakaian hitam mulai bergerak di sekitar Pejompongan.

Sejak siang hingga sore 27 Agustus 2026, orang-orang dengan ciri pakaian serupa sudah terlihat di sejumlah titik demonstrasi. Mereka berpindah dari sekitar flyover Gerbang Pemuda dekat Senayan Park, kawasan gedung DPR/MPR RI, hingga Pejompongan Raya.

Beberapa di antaranya mengaku sebagai bagian dari Polda Metro Jaya.

Di lapangan, mereka terlihat melakukan berbagai aktivitas bersama aparat kepolisian: mengawasi massa, memberikan arahan, memeriksa barang bawaan, menggeledah ambulans, hingga menciduk peserta aksi demonstrasi. Mereka juga terlihat memiliki akses keluar-masuk kawasan gedung DPR/MPR RI.

Kami kemudian memetakan pergerakan mereka.

Setidaknya 12 orang dengan ciri pakaian yang sama seperti rombongan pengeroyok Fatur dan Bambang terlihat bersama kelompok aparat kepolisian pada siang, sore, hingga malam sebelum kejadian.

Mereka muncul di sekitar kolong jembatan dekat Senayan Park, kawasan DPR/MPR RI, hingga bagian dalam kompleks parlemen.

Dalam sejumlah rekaman, orang-orang tersebut terlihat bersama aparat saat melakukan pengawasan, memberikan arahan, menangkap massa, maupun berkumpul dalam briefing.

Jejak itu menjadi penting untuk kami bandingkan dengan rekaman pengeroyokan Fatur dan Bambang. Sebab, dari tiga video pengeroyokan yang kami telaah—dua video Bambang dan satu video Fatur—wajah para pelaku tidak cukup jelas untuk dikenali.

Peristiwa terjadi pada malam hari. Penerangan terbatas. Kamera bergerak. Jarak pengambilan gambar juga berubah-ubah.

Karena itu kami tidak mengandalkan wajah.

Kami melacak pakaian, aksesori, benda yang dibawa, dan pergerakan orang-orang tersebut sebelum dan ketika pengeroyokan terjadi.

OTK di Sekitar Pengeroyokan Fatur

Dalam pengeroyokan Fatur, dua di antara rombongan pengeroyok sempat terlihat berada di sekitar persimpangan flyover Gerbang Pemuda menuju mal Senayan Park (dari arah DPR/MPR RI).

Yang pertama mengenakan topi navy dengan bagian moncong berwarna merah. Kami menyebutnya OTK 1.

Kedua, pria mengenakan kaus hitam dengan tulisan “The World is Full of Hope”. Ia membawa borgol ties merah. Kami menyebutnya OTK 2.

Mereka terlihat bersama rombongan aparat kepolisian berpakaian sipil hitam-hitam. Dalam rekaman, kelompok itu tampak memberikan arahan ke arah jalan layang, tempat personel Brimob berjaga. Di sekitar mereka terdapat pula anggota polisi berseragam.

Kedua orang dengan ciri-ciri yang sama tampak dalam video pengeroyokan Fatur: OTK 1 membawa tongkat kayu, membiarkan Fatur diseret dan ditendang, sambil mengawasi situasi sekitar. OTK 2 terekam kamera menendang Fatur.

Foto OTK 1 dan OTK 2. [Sumber:Istimewa]
Foto OTK 1 dan OTK 2. [Sumber:Istimewa]

Selain OTK 1 dan 2, terdapat sosok lain dengan ciri yang berbeda. Ia mengenakan kaus hitam, celana abu-abu muda, dan topi bucket berwarna cokelat yang bagian tepinya dilipat ke atas. Kami menyebutnya OTK 3.

Sebelum pengeroyokan Fatur, OTK 3 terlihat di sekitar kompleks DPR/MPR RI.

Dalam sebuah rekaman, ia bersama rombongan orang berpakaian hitam lainnya terlihat menciduk seorang peserta demonstrasi. Mereka membawa orang tersebut ke depan pagar DPR. Di lokasi itu sudah terdapat sejumlah aparat kepolisian berseragam.

Dalam video pengeroyokan Fatur, orang dengan ciri-ciri sama seperti OTK 3 terlihat membawa tongkat rotan dan menendang wajah Fatur.

Foto OTK 3. [Sumber: Suara.com dan Istimewa]
Foto OTK 3. [Sumber: Suara.com dan Istimewa]

Jejak berikutnya mengarah kepada dua sosok lain. Kami menamainya OTK 4 dan OTK 5.

OTK 4 memiliki ciri: mengenakan kaus hitam bermotif sablon dan ransel merah yang dikenakan di bagian depan.

Pada siang hari, sosok ini terekam berada di dalam kompleks parlemen. Ia bergerak bersama rombongan orang berpakaian hitam. Dalam sebuah video, rombongan tersebut terlihat menciduk, menyeret, lalu memukuli seorang pria.

Belakangan, pria itu diketahui merupakan intel TNI.

Dalam rekaman lain, sosok dengan ciri yang sama juga terlihat melempar sesuatu dari dalam kompleks parlemen ke arah massa yang berada di luar pagar.

Sedangkan dalam video pengeroyokan Fatur, sosok yang kami identifikasi OTK 4 tampak membawa tongkat kayu dan ikut menendang Fatur. Ia juga mengenakan tanda pengenal yang dikalungkan di bagian leher.

Foto OTK 4. [Sumber: Sindonews]
Foto OTK 4. [Sumber: Sindonews]

Sosok berikutnya adalah OTK 5. Ia mengenakan jaket navy dengan tulisan merah di bagian belakang yang tidak terbaca jelas. Di kepalanya terdapat topi dengan bagian belakang berwarna putih.

Malam hari sebelum pengeroyokan Fatur, ia masih tampak berada di depan gedung DPR, berkumpul dengan kelompok hitam-hitam dan aparat kepolisian berseragam.

Foto OTK 5 ini diunggah akun TikTok @sh444zi. Pemiliknya diduga merupakan anggota polisi. Akun tersebut juga mengunggah foto-foto yang memperlihatkan bagian dalam gedung Resmob Unit III Polres Metro Jakarta Pusat.

Dalam video pengeroyokan Fatur, OTK 5 terlihat turut serta menyeret Fatur dan memisahkannya dari seorang tim medis yang berupaya menyelamatkan.

Foto OTK 5. [Sumber: TikTok @sh444zi dan Istimewa]
Foto OTK 5. [Sumber: TikTok @sh444zi dan Istimewa]

OTK di Sekitar Pengeroyokan Bambang

Jejak berikutnya membawa kami ke pengeroyokan Bambang. Kami mengidentifikasi OTK 6 dengan ciri-ciri mengenakan kaus hitam, celana dan topi berwarna krem, serta tattoo sleeve di kedua lengannya.

Beberapa jam sebelum Bambang dikeroyok, sosok dengan ciri yang sama seperti OTK 6 terlihat di kawasan Pejompongan.

Sore itu, ia tampak mengejar massa pelajar menjauh dari kolong jembatan Pejompongan ke arah gedung DPR/MPR RI. Ia juga terlihat berada dalam satu rombongan bersama aparat berpakaian hitam lainnya.

Dalam video ketika Bambang dikeroyok dan diseret, OTK 6 terlihat berada di sekitar rombongan tersebut dan menyaksikan kejadian itu dari dekat.

Foto OTK 6. [Sumber: TikTok @videoasik27 dan Istimewa]
Foto OTK 6. [Sumber: TikTok @videoasik27 dan Istimewa]

Selain OTK 6 ada pula OTK 7 yang turut berada di kerumunan menyaksikan Bambang dikeroyok dan diseret.

Ia sebelumnya terlihat berada di kolong jembatan Pejompongan bersama dengan rombongan kepolisian berpakaian sipil—di antaranya mengenakan kaus bertuliskan “POLISI”. Saat itu, mereka sedang berhadapan dengan massa pelajar yang melempari aparat dengan petasan.

Foto OTK 7. [Sumber: Tribunnews dan Istimewa]
Foto OTK 7. [Sumber: Tribunnews dan Istimewa]

Selanjutnya adalah OTK 8, sosok dengan ciri-ciri kaus abu-abu bersablon merah dan putih, serta topi hitam dengan logo putih di bagian tengah. Ia sempat terekam dalam video yang diunggah akun TikTok @bang_naga2010, yang teridentifikasi sebagai akun milik Kanit 1 Subdit 2 Ditressiber Polda Metro Jaya, Kompol Immanuel Sinaga.

Dalam video tersebut, OTK 8 terlihat mengikuti briefing bersama sejumlah anggota kepolisian. Tampak pula Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya Kombes Raden Bagoes Wibisono Handoyo Koesoemah yang sedang memimpin briefing.

Sementara dalam video pengeroyokan Bambang, orang dengan ciri-ciri yang sama seperti OTK 8 tersebut terlihat membawa tongkat kayu menunjuk ke arah Bambang yang tengah diseret, dan meneriakkan, “Bawa! Bawa! Bawa!”

Foto OTK 8. [Sumber: TikTok @bang_naga2010 dan Istimewa]
Foto OTK 8. [Sumber: TikTok @bang_naga2010 dan Istimewa]

Jejak lain muncul di sekitar pengeroyokan Bambang. Kami menyebutnya OTK 9. Ia mengenakan kaus hitam dengan logo tengkorak berbingkai merah.

Dalam sebuah unggahan di akun Instagram @kompi8pmj, sosok dengan ciri yang sama terlihat berdiri di belakang pasukan Samapta Bhayangkara atau Sabhara bersama rombongan orang berpakaian hitam.

Dalam video pengeroyokan Bambang, OTK 9 terlihat sekilas berada di antara kerumunan dan menyaksikan Bambang dikeroyok.

Foto OTK 9. [Sumber: Instagram @kompi8pmj dan Istimewa]
Foto OTK 9. [Sumber: Instagram @kompi8pmj dan Istimewa]

Sosok berikutnya OTK 10. Ciri-cirinya: topi putih, kaus lengan panjang abu-abu, celana hitam, dan masker merah kecokelatan.

Malam hari sebelum pengeroyokan Bambang, ia terlihat berjalan bersama rombongan orang berpakaian hitam di jalan tol depan DPR menuju arah Pejompongan mengusir massa dengan berteriak, “Balik! Balik!”

Dalam video pengeroyokan Bambang, sosok dengan ciri yang sama seperti OTK 10 itu terlihat ikut berlari di sisi rombongan yang sedang menyeret Bambang.

Foto OTK 10. [Sumber: Istimewa]
Foto OTK 10. [Sumber: Istimewa]

Kami juga menemukan dugaan bahwa pelaku pengeroyokan Fatur dan Bambang adalah kelompok yang sama. Dugaan ini merujuk pada OTK 11 dan OTK 12.

OTK 11 dengan ciri-ciri kaus hitam dan sablon berwarna putih, biru, dan kuning di bagian punggung, dan OTK 12 yang bertopi dan berkaus hitam dengan tiga garis putih di kedua lengan, tampak dalam video pengeroyokan Fatur dan Bambang.

Pada siang hari, OTK 11 terlihat berkumpul bersama rombongan aparat kepolisian berpakaian hitam. Beberapa di antaranya mengenakan kaus bertuliskan “POLISI” di sekitar DPR. Malamnya, ia kembali terlihat di kolong jembatan Pejompongan.

Foto OTK 11. [Sumber: Radar Jogja, Tribunnews, dan Istimewa]
Foto OTK 11. [Sumber: Radar Jogja, Tribunnews, dan Istimewa]

Sementara OTK 12, pada sore hari terlihat di depan DPR.

Ia berada bersama OTK 3 dan rombongan aparat berpakaian sipil ketika menciduk seorang peserta demonstrasi dan membawanya ke depan pagar DPR/MPR.

Malam harinya, OTK 12 terlihat berada di Pejompongan.

Dalam video pengeroyokan Fatur, ia nampak menyerukan sesuatu di tengah kerumunan. Sedangkan dalam video pengeroyokan Bambang, sosok dengan ciri yang sama terlihat berada di sekitar lokasi menyaksikan dan membiarkan Bambang diseret.

Foto OTK 12. [Sumber: Suara.com dan Istimewa]
Foto OTK 12. [Sumber: Suara.com dan Istimewa]

Kami kemudian mencoba menelusuri identitas OTK 12 melalui sumber-sumber terbuka di internet. Pencarian itu menemukan sejumlah foto dan video dengan sosok yang memiliki kemiripan ciri wajah dan fisik.

Dalam salah satu pemberitaan, sosok yang kami identifikasi memiliki kemiripan dengan OTK 12 terlihat mengenakan jaket reserse berwarna biru tua bersama rombongan reserse Polda Metro Jaya saat membekuk sejumlah karyawan Komdigi yang terlibat kasus pengelolaan judi online.

Sosok serupa juga terlihat ikut serta dalam konferensi pers Polda Metro Jaya mengenai kasus pembunuhan balita di Tangerang.

Petunjuk lain muncul dari pemberitaan pengamanan Pilkada 2024 di Koramil 10/Sepatan, Tangerang, Banten.

Dalam foto tersebut, sosok yang memiliki kemiripan dengan OTK 12 terlihat mengenakan lencana dan baret merah, atribut yang mengarah pada satuan reserse dan kriminal atau reskrim.

Dari pencocokan ketiga sumber tersebut, kami mengidentifikasi OTK 12 sebagai sosok yang diduga merupakan anggota Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Jejak orang-orang yang berada di sekitar pengeroyokan Fatur dan Bambang tidak berhenti pada 12 OTK.

Kami juga menemukan dua sosok lain yang muncul dalam video kedua peristiwa tersebut. Keduanya kami sebut OTK 13 dan OTK 14.

Namun, hingga penelusuran ini dilakukan, kami belum dapat memastikan apakah keduanya merupakan bagian dari aparat kepolisian.

Foto OTK 13. [Sumber: Istimewa]
Foto OTK 13. [Sumber: Istimewa]

OTK 13 terlihat mengenakan kaus hitam dengan sablon grafis di bagian belakang dan tas selempang berukuran besar.

Dalam video pengeroyokan Bambang, sosok tersebut ikut menyeret tubuh Bambang ketika orang-orang di sekelilingnya berulang kali meneriakkan, “Bawa! Bawa! Bawa!”.

Sementara OTK 14 memiliki ciri kaus merah polos, celana jins, dan topi hitam. Dalam video pengeroyokan Fatur, dia tampak menendang wajah Fatur dari jarak dekat.

Foto OTK 14. [Sumber: Istimewa]
Foto OTK 14. [Sumber: Istimewa]

Pergerakan di DPR dan Pejompongan

SEKITAR pukul 19.00, situasi di depan gerbang DPR mulai berubah.

Setelah barisan polisi berseragam lengkap dengan tameng meninggalkan gerbang utama bersama sejumlah orang berpakaian hitam tanpa atribut kepolisian, penerangan di sepanjang jalan tiba-tiba padam.

Para demonstran yang masih berada di lokasi kembali didesak untuk meninggalkan kawasan tersebut.

Di tengah kondisi yang gelap, rekaman video memperlihatkan sekelompok orang diduga polisi berpakaian sipil ikut bergerak mengejar massa. Suara mereka terdengar berulang kali memerintahkan, “Bubar! Bubar! Bubar!”

Beberapa orang dalam kelompok itu membawa tongkat kayu. Tongkat tersebut tampak diacungkan ke arah demonstran yang berusaha menjauh.

Rekaman lainnya memperlihatkan kelompok berpakaian sipil itu bergerak beriringan dengan polisi berseragam saat membubarkan massa.

Seorang di antaranya menggunakan senter untuk menerangi jalan. Sosok lainnya terlihat mengejar demonstran sebelum melemparkan tongkat kayu ke arah massa.

Di sejumlah titik sekitar gedung DPR, orang-orang berpakaian sipil itu juga terekam melakukan kekerasan terhadap demonstran. Mereka terlihat memukul menggunakan tongkat dan menendang, sembari meneriakkan, “Balik! Balik!”

Ada pula rekaman yang dibuat seorang demonstran dari jarak dekat.

Video tersebut sempat diunggah ke TikTok, tetapi kemudian diduga dihapus sepihak oleh aplikator. Pembuatnya lalu mengunggah kembali rekaman itu melalui akun Instagram pribadinya.

Dalam video tersebut, ia terlihat berusaha mendekati seseorang yang tengah dikeroyok. Korban terdengar berteriak meminta pertolongan, sementara sejumlah orang berpakaian hitam terus mengerubunginya.

Niat untuk menolong tak berlangsung lama. Pembuat video justru menjadi sasaran kejaran kelompok tersebut. Ia kemudian berlari menjauh karena para pengeroyok membawa tongkat rotan dan rantai.

Dalam unggahan dan kolom komentar Instagram, pembuat video menyebut kejadian itu berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB. Ia menduga orang-orang yang melakukan pengeroyokan merupakan “intel kepolisian” yang mengenakan pakaian sipil.

“Kenapa saya bilang intel karena pas kejadian itu baru mulai kerusuhan. Ormas belum ada. Dia berdampingan dengan polisi yang bertameng. Pas saya mau dekati ada intel yang bawa rantai mau tangkap saya,” tulisnya di kolom komentar.

Kami telah mencoba mewawancarai pemilik akun untuk memastikan kronologi, rekaman, serta identitas orang-orang yang terlihat dalam video. Ia sempat bersedia diwawancarai, tetapi setelah itu tidak lagi membalas pesan kami.

***
SEJAK sore, Pejompongan sudah menjadi salah satu titik pergerakan aparat berpakaian sipil.

Sejumlah warga mengaku melihat kelompok berpakaian hitam-hitam berjaga di kawasan tersebut sejak sekitar pukul 15.00. Meski mengenakan pakaian sipil, warga mengetahui mereka merupakan aparat kepolisian.

Sebagian membawa kartu identitas. Ada pula yang mengenakan kaus polo hitam dengan tulisan “POLISI” di bagian belakang. Beberapa lainnya terlihat membawa handy talky atau HT.

“Pakai baju preman semua. Tapi memang aparat, bilangnya mereka polisi,” tutur M, warga sekitar Pejompongan.

Menurut penuturan warga, kelompok tersebut tersebar di sejumlah titik, antara lain kolong jembatan Pejompongan, sekitar Bank BNI, serta gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang berada di sebelahnya.

Sore itu, mereka terlihat mengadang massa pelajar yang bergerak dari arah Jalan Penjernihan menuju DPR.

Dua rekaman video yang kami telusuri—meski waktu pengambilannya belum dapat kami pastikan—memperlihatkan kelompok berpakaian hitam itu sudah terlibat dalam kekerasan terhadap demonstran lain sebelum Fatur dan Bambang dikeroyok.

Dalam video pertama, kelompok tersebut bergerak maju mendekati massa pelajar di deretan toko cermin milik Bambang. Mereka kemudian menangkap seorang demonstran dan memukulinya secara bersama-sama.

Di tengah kerumunan terdengar suara, “Polisi itu yang hitam-hitam.”

Video kedua memperlihatkan kelompok yang sama berhadapan dengan massa pelajar. Kali ini terdengar teriakan, “Ambil! Ambil! Satu! Satu!”

Dari rangkaian rekaman video dan penelusuran lokasi, kami memetakan sedikitnya dua klaster kelompok berpakaian sipil yang kemudian muncul dalam pengeroyokan Fatur dan Bambang.

Klaster pertama adalah kelompok yang telah berada di kawasan Pejompongan sejak sore. Sedangkan klaster kedua merupakan kelompok yang sebelumnya terlihat berjaga dan bergerak di sekitar DPR.

Sebagian dari kelompok kedua tersebut bergerak dari sekitar DPR menuju Pejompongan. Mereka menyeberangi jalan tol di depan DPR sembari membubarkan massa.

Dalam pergerakan itu, OTK 12 terlihat berjalan bersama OTK 3 dan OTK 10. Mereka juga tampak berada bersama Kanit II Resmob Polda Metro Jaya, AKP Fechy Jowiberthi Ataupah.

Kolase foto pergerekan OTk 12, OTK 3 dan OTK 10. [Sumber: Istimewa]
Kolase foto pergerekan OTk 12, OTK 3 dan OTK 10. [Sumber: Istimewa]

Rekaman CCTV dan Akun Medsos Polisi

Rekaman CCTV turut menangkap pergerakan rombongan berpakaian hitam di sekitar DPR menuju Pejompongan pada malam 27 Agustus 2026.

Mereka di antaranya mengenakan kaus bertuliskan “POLISI” di punggung.

Selain itu beberapa di antaranya juga tampak dalam video personel Siber Polda Metro Jaya, berjalan di Jalan Gerbang Pemuda menjauhi mal Senayan Park sekitar pukul 20.00.

Jalur tersebut menembus ke Jalan Gelora (belakang DPR) yang juga menuju ke Pejompongan.

Foto pergerakan rombongan Siber Polda Metro Jaya [Sumber: Istimewa]
Foto pergerakan rombongan Siber Polda Metro Jaya [Sumber: Istimewa]

Sekitar pukul 21.30 WIB, kelompok berpakaian sipil tersebut sudah terlihat di kolong jembatan Pejompongan. Mereka berhadapan dengan massa pelajar yang melemparkan petasan.

Alih-alih menjauh, beberapa orang dalam kelompok itu terlihat memancing reaksi massa. Saat petasan meledak di hadapannya, mereka terdengar berteriak, “Lagi! Lagi!”

Selain itu mereka juga terlihat membawa laser berwarna hijau yang disorotkan ke arah massa pelajar.

Dari pencocokan visual, kami mengidentifikasi sedikitnya dua sosok dalam rombongan di kolong jembatan tersebut yang kemudian muncul dalam video pengeroyokan Fatur. Keduanya adalah OTK 7 dan OTK 10.

Jejak aktivitas kelompok berpakaian sipil ini ternyata juga muncul dari unggahan anggota Polda Metro Jaya di media sosialnya.

Kompol Indah Hartantiningrum, Kasubdit 1 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, misalnya, mengunggah aktivitasnya melalui akun Instagram @indahhh2009.

Dalam salah satu unggahannya, ia terlihat bersama rombongan berjaga di belakang flyover Pejompongan, mengarah ke Jalan Pejompongan Raya, hingga malam hari.

Jejak serupa terlihat pada akun TikTok @bang_naga2010 milik Kompol Immanuel Sinaga, Kanit 1 Subdit 2 Ditressiber Polda Metro Jaya.

Immanuel mengunggah aktivitas bersama rombongan berpakaian hitam sejak siang hingga malam di sekitar DPR dan Jalan Pejompongan Raya.

Salah satu sosok dalam unggahan tersebut memiliki kemiripan ciri dengan OTK 8 yang sebelumnya kami temukan dalam video pengeroyokan Bambang. Sosok itu terlihat berada dalam barisan saat briefing bersama Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya Kombes Raden Bagoes Wibisono Handoyo Koesoemah.

Waktu persis pengambilan foto tersebut tidak dapat kami pastikan. Namun, pada malam yang sama, Immanuel juga mengunggah foto dirinya berada di Jalan Pejompongan Raya.

Lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari tempat Bambang dikeroyok.

Kolase foto tangkapan layar unggahan akun Instagram @indahhh2009, TikTok @bang_naga2010 dan rombongan polisi berpakaian hitam. [Sumber: Instagram @indahhh2009, TikTok @bang_naga2010 dan Istimewa]
Tangkapan layar unggahan akun Instagram @indahhh2009, TikTok @bang_naga2010 dan foto rombongan polisi berpakaian hitam. [Sumber: Instagram @indahhh2009, TikTok @bang_naga2010 dan Istimewa]

HT, Tanda Pengenal, dan Borgol Ties Merah

SEORANG warga yang menyaksikan pengeroyokan Bambang dari dekat masih mengingat bagaimana tubuh pria 59 tahun itu dihantam beramai-ramai.

Menurut kesaksiannya, para pelaku menggunakan tongkat kayu. Salah seorang di antaranya terlihat membawa HT.

Saksi tersebut melihat Bambang dalam posisi tergeletak di tengah jalan. Ia mengira saat itu Bambang sudah meninggal.

“Mau nolongin sama saja dengan bunuh diri. Orang massanya banyak.” ungkap saksi yang merupakan warga sekitar berinisial W.

Sementara Yoga, anak Bambang, mengatakan ayahnya tiba di RS TNI AL Dr. Mintohardjo dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

“Bapak pas masuk sudah dalam keadaan tidak bernapas. Sudah meninggal. Kata dokternya begitu,” ujarnya.

Ada perbedaan lain yang kami temukan dari pola pergerakan kelompok berpakaian hitam tersebut dengan GRIB. Kelompok berpakaian hitam tersebut tidak hanya terlihat memukuli orang.

Dalam sejumlah rekaman, mereka tampak menangkap, menyeret, hingga membawa orang yang mereka kejar.

Pola itu serupa dengan penuturan Fatur.

Fatur menyebut kelompok berpakaian hitam yang mengaku sebagai intel polisi menangkap dan menyeretnya hingga masuk ke kompleks DPR melalui gerbang belakang Manggala Wanabakti.

Di sana, menurut kesaksiannya, ia mengalami kekerasan dan dipaksa mengaku sebagai provokator.

Fatur kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya ketika azan Subuh berkumandang.

Sejumlah anggota kepolisian berjaga didalam Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc]
Sejumlah anggota kepolisian berjaga didalam Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha]

Pada demonstrasi 27 Agustus 2026, Polri mengerahkan 18.504 personel gabungan.

Sebanyak 4.274 personel di antaranya disiapkan Polda Metro Jaya untuk mengamankan sejumlah titik strategis, termasuk kawasan Gedung DPR/MPR dan Monas.

Namun, tidak ada penjelasan berapa banyak anggota yang bertugas dengan seragam kepolisian dan berapa yang mengenakan pakaian sipil.

Penggunaan pakaian sipil oleh anggota polisi memang diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkapolri) tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dalam Pasal 7 ayat (3), pakaian dinas harian atau pakaian bebas dapat digunakan secara terbatas oleh sejumlah satuan kerja, antara lain Reserse Kriminal, Intelijen Keamanan, Pengamanan Internal, Divisi Hubungan Internasional Polri, serta Detasemen Khusus 99 Antiteror Polri.

Di sisi lain, aturan mengenai penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian menetapkan ketentuan berbeda.

Perkapolri Nomor 1 Tahun 2009 mengatur anggota yang menjalankan tugas dengan menggunakan kekuatan wajib mengenakan identitas kepolisian, mulai dari seragam atau jaket bertuliskan “POLISI” hingga lencana.

Di sisi lain rekaman video yang kami telusuri memperlihatkan sejumlah petunjuk lain.

Beberapa orang yang berada di sekitar pengeroyokan terlihat mengenakan kalung tanda pengenal berbahan plastik dengan sebuah logo di bagian tengah.

Bentuknya memiliki kemiripan dengan tanda pengenal yang terlihat dikenakan oleh sejumlah anggota kepolisian Polda Metro Jaya.

Kolase foto beberapa orang yang berada di sekitar pengeroyokan mengenakan kalung tanda pengenal mirip yang digunakan anggota polisi. [Sumber: Istimewa dan Instagram @indahhh2009]
Kolase foto beberapa orang yang berada di sekitar pengeroyokan mengenakan kalung tanda pengenal mirip yang digunakan anggota polisi. [Sumber: Istimewa dan Instagram @indahhh2009]

Petunjuk lainnya muncul dari tali berwarna merah yang dibawa beberapa orang dalam kelompok tersebut.

Kami mencocokkan bentuknya dengan rekaman lain dan menemukan kemiripan dengan borgol ties sekali pakai.

Dalam sebuah video TikTok, borgol plastik berwarna merah terlihat digunakan untuk mengikat tangan orang-orang yang ditangkap polisi.

Penelusuran kami terhadap pengadaan Polri sepanjang 2025–2026, kemudian menemukan empat pengadaan dengan kata kunci “borgol plastik”, di luar pengadaan yang dilakukan satuan atau wilayah lain.

Pengadaan tersebut di antaranya dilakukan Bareskrim Polri dengan nilai Rp51,5 miliar, Rolog Polda Metro Jaya Rp35,9 miliar, Korbrimob Polri Rp44,1 miliar, serta Korsabhara Baharkam Polri Rp24,1 miliar.

Keempat pengadaan itu tercatat menggunakan penyedia yang sama, PT Sekawan Abadi Nusantara.

Berdasarkan penelusuran pada e-katalog INAPROC, platform pengadaan barang dan jasa pemerintah, perusahaan yang berbasis di Jakarta Selatan tersebut tercatat menyediakan borgol plastik berwarna merah.

Foto sejumlah orang diduga anggota polisi berpakaian kaus hitam membawa borgol ties merah. [Sumber: Istimewa, TikTok @arie_genks, katalog INAPROC]
Foto sejumlah orang diduga anggota polisi berpakaian kaus hitam membawa borgol ties merah. [Sumber: Istimewa, TikTok @arie_genks, katalog INAPROC]

Di tengah temuan kami yang mengarah pada dugaan keterlibatan aparat dalam pengeroyokan Bambang, Polda Metro Jaya memberikan versi berbeda.

Tak ada satu pun anggota Polri yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Polisi justru menetapkan tiga orang yang disebut sebagai pekerja harian lepas, yakni FP (23), DS (33), dan DDS (29).

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, saat itu menyebut motif ketiganya melakukan pengeroyokan karena merasa kesal nafkahnya terganggu akibat kerusuhan.

“Para tersangka ini mengalami kekesalan dan ikut serta secara serta-merta pada saat terjadi kerusuhan di lokasi. Ketiganya merupakan pekerja kasar, serabutan, yang mencari pekerjaan-pekerjaan yang dadakan," tutur Iman.

Ketiga tersangka turut ditampilkan dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya pada 12 September 2026. Namun, polisi menutup wajah ketiganya dengan balaclava.

Polda Metro Jaya menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan Bambang Setiawan saat kerusuhan 27 Agustus 2026 di Pejompongan. [Suara.com/Adiyoga]
Polda Metro Jaya menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan Bambang Setiawan saat kerusuhan 27 Agustus 2026 di Pejompongan. [Sumber: Suara.com]

Ukuran Tongkat dan Jejak GRIB

Untuk menguji apakah kelompok yang mengeroyok Bambang merupakan massa GRIB, kami membandingkan sejumlah ciri visual yang terekam pada malam 27 Agustus. Salah satunya adalah tongkat kayu yang dibawa massa.

Dalam sejumlah dokumentasi, massa GRIB terlihat membawa bambu berukuran panjang, sebagian mencapai atau bahkan melewati tinggi kepala.

Sementara kelompok yang terekam dalam pengeroyokan Bambang dan Fatur membawa tongkat yang lebih pendek dan lebih tipis, kira-kira sebatas dada hingga setengah badan orang dewasa.

Bentuk tongkat kelompok pengeroyok itu justru memiliki kemiripan dengan tongkat yang terlihat dibawa sejumlah aparat kepolisian.

Kolase foto ukuran tongkat yang digunakan massa GRIB dan polisi. [Sumber: iNews, TikTok @bang_naga2010, Istimewa, TikTok @abduljabbarafi42]
Kolase foto ukuran tongkat yang digunakan massa GRIB dan polisi. [Sumber: iNews, TikTok @bang_naga2010, Istimewa, TikTok @abduljabbarafi42]

Petunjuk lain muncul dari pakaian dan atribut. Dalam sejumlah dokumentasi di media sosial, aparat berpakaian sipil baru terlihat membawa tongkat kayu pada malam hari.

Bahkan, sebuah video memperlihatkan tongkat tersebut sudah berada di tangan mereka ketika masih berada di dalam gedung DPR.

Kesaksian warga di sekitar lokasi pengeroyokan juga tidak menunjukkan adanya atribut yang identik dengan massa GRIB.

T, warga yang menyaksikan bentrokan sekaligus pengeroyokan Bambang malam itu, mengatakan tidak melihat pelaku mengenakan ikat kepala putih—atribut yang dalam berbagai dokumentasi dikenakan massa GRIB.

“Ikat kepala putih arah sini nggak ada. Yang viral itu, di sini nggak ada. Katanya pakai ikat putih tuh, nggak ada,” katanya.

Kami menelusuri sejumlah video yang beredar di media sosial untuk memetakan pergerakan rombongan GRIB sepanjang malam 27 Agustus.

Rombongan bermassa besar dengan ikat kepala putih mula-mula terlihat berkumpul di kantor DPP GRIB Jaya di Kedoya, Jakarta Barat.

Pada pukul 20.52 WIB, rombongan itu terekam kamera Jasa Marga memasuki Tol Kebon Jeruk. Mereka membawa bambu dan bergerak menggunakan tujuh truk engkel, satu mobil pikap, serta sejumlah mobil dan sepeda motor.

Sekitar pukul 21.00 WIB, rombongan kembali terlihat di sekitar RS Harapan Kita, tepatnya Jalan Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat. Mereka bergerak beriringan dengan personel Brimob yang ikut mengacungkan tangan ketika massa GRIB berseru “Jaga Jakarta!”.

Sekitar setengah jam kemudian, pada pukul 21.30 WIB, rombongan berhenti di kawasan jembatan layang Slipi, tepat di depan Hotel Menara Peninsula, Palmerah. Ketua Umum GRIB Hercules turun dari sebuah mobil SUV, disusul massa berikat kepala putih yang membawa bambu.

Hingga sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan masih terlihat di kawasan tersebut.

Sejumlah video juga memperlihatkan massa GRIB melakukan kekerasan terhadap orang-orang di sekitar lokasi.

Dalam dokumentasi terakhir yang kami telusuri, massa GRIB masih terlihat mengenakan ikat kepala putih ketika berada di kawasan Slipi.

Lokasi tersebut berjarak sekitar dua kilometer dari Jalan Pejompongan Raya—sekitar 30 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Keterangan: Rute pergerakan GRIB Jaya. Massa berikat kepala putih ini tertangkap kamera terakhir kali di flyover Slipi dekat Hotel Menara Peninsula. [Sumber: Istimewa]
Keterangan: Rute pergerakan GRIB Jaya. Massa berikat kepala putih ini tertangkap kamera terakhir kali di flyover Slipi dekat Hotel Menara Peninsula. [Sumber: Istimewa]

GRIB Jaya juga membantah berada di Pejompongan, lokasi di mana Bambang dan Fatur dikeroyok. Meski mereka mengakui ikut turun ke jalan membubarkan massa demonstran pada malam 27 Agustus.

Kuasa Hukum DPP GRIB Jaya, Wilson Colling, mengatakan rombongan GRIB, termasuk Hercules, tertahan di kawasan Slipi.

Mereka mengaku tidak dapat meneruskan perjalanan ke arah Pejompongan karena terhalang situasi di sekitar Slipi dan kawasan Polres Jakarta Barat lama di Jalan S. Parman.

“Oleh karenanya, mengaitkan kematian itu dengan GRIB sangat salah dan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya,” ujar Wilson di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (31/8/2026).

Kami Sempat meminta akses rekaman CCTV yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui platform Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Jakarta untuk mengindetifikasi lebih dalam kelompok yang berada di lokasi pengeroyokan.

Permohonan diajukan untuk sejumlah titik di sekitar Gedung DPR dan Pejompongan.

Namun pada 16 September 2026, Pemprov DKI Jakarta menolak memberikan akses terhadap rekaman tersebut. Dalam jawabannya, Pemprov menyatakan rekaman CCTV termasuk informasi yang bersifat tertutup.

Alasannya, antara lain, untuk “melindungi data pribadi yang terekam dalam CCTV”, mencegah “penyalahgunaan penyebaran informasi”, serta menghindari kemungkinan rekaman “dapat mengungkap pola keamanan identitas pegawai maupun masyarakat.”

Meski begitu, Pemprov DKI membuka kemungkinan rekaman tersebut dapat diakses apabila ada perintah atau izin tertulis dari aparat penegak hukum.

Kekerasan Berulang

Direktur Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII), Eko Riyadi, melihat persoalan itu setidaknya dari dua sisi: bagaimana polisi dididik dan bagaimana negara memandang demonstrasi.

Menurut Eko, pendidikan di institusi kepolisian masih belum sepenuhnya membentuk karakter “polisi sipil”. Kultur yang dibangun lebih banyak menekankan jiwa korsa dan hierarki komando.

Pola tersebut, menurut dia, membuat struktur pendidikan kepolisian masih memiliki kemiripan dengan militer.

Konsekuensinya, ruang diskusi dan kolaborasi tidak terlalu berkembang. Instruksi bergerak dari atas ke bawah, sementara pemahaman mengenai perlindungan hak asasi manusia belum menjadi bagian yang cukup kuat dalam proses pendidikan dan pelatihan.

“Saya menaruh perhatian besar soal pola pendidikan,” ujar Eko.

Persoalan kedua, kata dia, terletak pada cara aparat memandang demonstrasi. Penyampaian aspirasi semestinya ditempatkan sebagai hak dan kebebasan warga negara, bukan semata-mata sebagai ancaman terhadap keamanan.

Ketika demonstrasi lebih dulu dipandang sebagai gangguan ketertiban dan keamanan, menurutnya tindakan aparat pun berisiko bergerak ke arah represif.

Dalam konteks dugaan keterlibatan anggota polisi tanpa seragam formal dalam pengeroyokan Fatur dan Bambang, Eko menilai persoalan itu menjadi lebih serius.

Menurut dia, seragam bukan sekadar pakaian dinas. Di dalamnya melekat identitas, kewenangan, sekaligus batasan hukum yang memungkinkan masyarakat mengetahui siapa yang sedang berhadapan dengan mereka.

Kalau si orang yang menggunakan seragam formal polisi itu melakukan pelanggaran hukum, maka ketika menuntut itu juga mudah.

Ia juga menyoroti tindakan aparat ketika menyaksikan kekerasan secara langsung.

Polisi, kata Eko, memiliki kewajiban untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Karena itu, ketika seseorang dipukuli di hadapan aparat dan tidak ada upaya untuk menghentikannya, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang melakukan kekerasan.

Dalam kasus Fatur dan Bambang, Eko menilai dugaan pembiaran oleh anggota polisi yang berada di lokasi dapat masuk sebagai bentuk “pelanggaran secara pasif”.

“Saya sangat khawatir kekerasan yang mereka lakukan itu terlembaga dan terjustifikasi baik secara etis, moral, maupun hukum,” katanya.

Karena itu bagi Eko, perubahan tidak cukup hanya dilakukan pada level teknis pengamanan demonstrasi. Ia melihat kepolisian sebagai salah satu cermin dari karakter rezim yang berkuasa.

Jika kekuasaan berjalan dalam kerangka demokratis, menurut dia, kepolisian semestinya bergerak mengikuti prinsip yang sama.

“Tapi, kalau rezimnya cenderung otoriter atau bahkan otoritarianistik, kita perlu khawatir polisi juga menggunakan cara-cara yang sama.”

Kami telah mengirimkan permohonan konfirmasi melalui surat elektronik dan fisik kepada Bidang Humas Polda Metro Jaya pada 25 dan 28 September 2026.

Dalam surat tersebut kami meminta tanggapan Polda Metro Jaya mengenai dugaan keterlibatan oknum aparat,  menanyakan prosedur pengerahan personel tanpa seragam, hingga langkah konkret pencegahan kekerasan terhadap demonstran dan warga sipil.

Namun hingga berita ini ditayangkan, belum ada balasan atas permohonan konfirmasi tersebut.

Sementara keluarga Bambang dan Fatur memilih "mengikhlaskan" tragedi tersebut. Sepulang umrah, kedua keluarga sepakat tidak ingin memperpanjang persoalan dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian.

Namun, KontraS menilai sikap keluarga tidak menggugurkan kewajiban polisi untuk mengusut perkara tersebut. Polisi tidak bisa membiarkan perkara ini menguap hanya karena keluarga memilih "ikhlas".

“Hal tersebut tidak menggugurkan pertanggungjawaban pidana pelaku penyiksaan,” jelas KontraS.

Terlebih, kata KontraS, kasus pengeroyokan terhadap Fatur dan Bambang serta pembunuhan terhadap Bambang merupakan delik biasa. Artinya, proses hukum tetap harus berjalan meski korban atau keluarga sekalipun mencabut laporan.

KontraS juga menyoroti ketentuan dalam Pasal 82 huruf F KUHAP yang mengecualikan tindak pidana terhadap nyawa dari mekanisme keadilan restoratif.

Bagi KontraS, perkara ini harus diusut tuntas. Tidak hanya untuk menuntut pertanggungjawaban pelaku, tetapi juga memastikan kekerasan serupa tidak kembali terjadi.

“Dengan demikian kepolisian sebagai aparat penegak hukum memiliki kewajiban mutlak untuk mengusut tuntas kasus ini,” tegas KontraS.

______________

Catatan redaksi: Atas pertimbangan faktor keamanan, kami menyamarkan identitas sejumlah narasumber. Laporan investigasi ini hasil kolaborasi Suara.com, Project Multatuli, dan BBC News Indonesia.


Terkait

Sebelum Tewas Dikeroyok, Penjual Cermin di Pejompongan Sempat Pingsan dan Dibawa ke RS Mintohardjo
Jum'at, 28 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Sebelum Tewas Dikeroyok, Penjual Cermin di Pejompongan Sempat Pingsan dan Dibawa ke RS Mintohardjo

Bambang Setiawan (60), penjual cermin di Pejompongan, tewas dikeroyok kelompok tak dikenal. Korban sempat pingsan dan dibawa ke rumah sakit sebelum meninggal

Cerita Siswa MA Pejompongan Dianiaya Kelompok Ngaku Intel, Dipukul Pakai Besi di Depan Rumah
Jum'at, 28 Agustus 2026 | 17:06 WIB

Cerita Siswa MA Pejompongan Dianiaya Kelompok Ngaku Intel, Dipukul Pakai Besi di Depan Rumah

Siswa MA Faturohman dianiaya sekelompok orang tak dikenal yang mengaku intel saat melihat kericuhan di Pejompongan, Jakpus, lalu dibawa ke DPR dan Polda.

Terbaru
Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M
polemik

Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:28 WIB

Menyusuri Song Wat di Bangkok, dengan suasana yang mengingatkan pada Blok M, tempat masa lalu dan gaya hidup baru bertemu.

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

×
Zoomed