Suara.com - Ada kawasan di Bangkok yang sekilas kelihatan biasa saja. Jalanannya sempit, bangunan-bangunannya kebanyakan sudah tua, kabel listrik berseliweran antartiang, dan beberapa sudutnya terlihat seperti kawasan kota lama yang belum banyak berubah.
Namun, semakin jauh melangkah, semakin terasa ada sesuatu yang berbeda. Namanya kawasannya: Song Wat.
Kawasan di tepi Sungai Chao Phraya ini punya suasana yang sulit dijelaskan hanya dengan kata 'tua'. Di antara gudang dan ruko berusia puluhan tahun, tiba-tiba muncul kedai kopi, toko kreatif, galeri, mural, restoran, hingga gerai jenama internasional.
Di sini, Bangkok lama dan Bangkok kekinian seperti sepakat tinggal di alamat yang sama.
Jalan Pendek yang Bisa Menghabiskan Waktu Berjam-jam
Pertengahan Agustus, media trip singkat bersama tiket.com dalam rangka mencoba rute penerbangan baru Jakarta-Bangkok dari TransNusa, membawa Suara.com menyusuri jalanan Song Wat yang panjangnya tidak sampai dua kilometer. Meski jalanannya pendek, jangan berharap bisa menuntaskannya dalam waktu singkat.
Ada terlalu banyak alasan buat berhenti. Misalnya, mural besar bergambar dua ekor gajah yang ternyata merupakan karya seniman jalanan asal Belgia, ROA.

Kemudian di sudut lain, aroma makanan dari kedai kecil bjuga bisa tiba-tiba bikin langkah melambat. Belum lagi toko-toko mungil di dalam gang yang dari luar terlihat biasa saja, tetapi pas dihampiri ternyata menyimpan barang-barang unik.
Ada banyak wisatawan berlalu-lalang di sepanjang jalan. Anak-anak muda lokal juga menghabiskan sore di kawasan ini. Ada yang duduk di kedai kopi, jajan, berburu barang unik, atau sekadar berfoto dengan latar kabel semrawut yang estetik.
Song Wat bukan kawasan yang sengaja dibuat agar terlihat keren. Karakter lamanya masih sangat terasa. Gudang-gudang tua yang dulu berkaitan dengan aktivitas perdagangan di kawasan tepi sungai, kini banyak beralih fungsi menjadi ruang kreatif, kafe, toko, dan tempat berkumpul. Perubahannya terasa alami, seolah bangunan-bangunan lama itu memang sedang menemukan kehidupan keduanya.
Bahkan merek besar seperti Adidas bisa masuk ke dalam kawasan ini tanpa membuat Song Wat kehilangan identitas. Modern, tetapi tidak berusaha menghapus yang lama.
Jangan Takut Masuk ke Gang
Ada satu aturan sederhana ketika menjelajahi Song Wat: jangan terlalu cepat menilai sebuah gang dari tampilan luarnya. Beberapa gang terlihat sempit dan agak kusam. Tapi justru di sanalah banyak kejutan bersembunyi.
Salah satunya Song Wat Coffee Roasters.

Nama kedai ini sudah cukup populer di kalangan pencinta kopi. Bisa dibilang, ini salah satu coffee shop yang paling skena di kawasan Song Wat.
Datang ke sini, wajib pesan dirty latte yang banyak dibicarakan di media sosial.
Tapi masalahnya, popularitas kafe ini bikin pengalaman minum kopi di sini tidak sesederhana membayangkan duduk santai di sudut gang sambil memperhatikan orang berlalu-lalang.
Untuk memesan kopi saja, antreannya bisa cukup panjang. Setelah kopi berada di tangan, tantangan berikutnya adalah mencari tempat duduk karena ruangnya relatif terbatas.

Meski begitu, orang tetap berdatangan. Kebanyakan karena penasaran ingin mencicipi langsung menu populernya, sekaligus berfoto di salah satu sudut kafenya yang estetik.
Dari Sekolah Tua hingga Cincin dari Sendok
Song Wat penuh dengan kejutan. Di salah satu sisi jalan, ada sebuah bangunan dengan fasad warna-warni dan ornamen oriental yang menarik perhatian. Dari papan namanya, tertulis: Pei Ing Public School, sebuah sekolah Tionghoa yang telah berdiri sejak 1920.
Bukan cuma bangunannya yang bikin langkah berhenti. Keramaian tak terduga di depan gerbang sekolah juga tak kalah menarik perhatian. Ketika dihampiri, ternyata kerumunan itu sedang menyaksikan seorang pedagang membuat cincin dari sendok.
Bak pesulap, pedagang memotong gagang sendok yang kebanyakan berwarna perak, dihaluskan, dibentuk melingkar, kemudian dipoles hingga mengilap. Benda yang semula hanya alat makan tiba-tiba saja berubah menjadi aksesori yang unik. Sederhana, tapi kreatif.

Mango Sticky Rice dan Kafe yang Tidak Berusaha Terlihat Sempurna
Gang berikutnya menawarkan suasana yang berbeda. Lebih ramai, lebih hidup, dan aroma makanan mulai terasa di udara.
Bagi pencinta mango sticky rice, Wanjai Cafe House layak masuk daftar persinggahan.
Ketan mangga dengan potongan mangga Nam Dok Mai yang manis, dipadukan dengan santan gurih, menjadi menu yang paling mudah menggoda.
Namun yang membuat tempat ini menarik bukan hanya makanannya.
Interiornya seperti membawa pengunjung masuk ke rumah tua Bangkok. Ada meja kayu, kursi-kursi besi yang tidak matching, barang-barang vintage, dan dinding yang sengaja dibiarkan memperlihatkan bata di balik lapisan semen yang mengelupas.
Tidak ada usaha berlebihan untuk membuatnya tampak sempurna. Tapi justru ketidaksempurnaan itu yang bikin bangunan ini terlihat menarik.

Ketika Song Wat Menjadi Etalase Kreativitas Lokal
Song Wat ternyata bukan cuma soal kopi dan kuliner. Kawasan ini juga menyenangkan bagi mereka yang senang berburu barang unik. Di depan toko Adidas, ada gudang tua tepi sungai yang kerap digunakan sebagai lokasi pasar tersembunyi, yang menjajakan berbagai produk vintage, karya seni, perhiasan buatan tangan, dekorasi rumah, parfum, tas, hingga jenama lokal independen.
Sebuah toko kecil bernama Oyster & Things juga layak disinggahi. Toko berkonsep lifestyle ini menawarkan dekorasi rumah, aksesori, perhiasan, dan berbagai pernak-pernik bernuansa retro. Bentuk-bentuk kerang muncul di berbagai benda, mulai dari piring, gelas, lampu hingga aksesori.
Yang menyenangkan ketika masuk ke toko-toko lokal di Song Wat, harganya ternyata tidak semahal yang dibayangkan. Berbagai perhiasan, aksesori, scarf, hingga barang-barang kecil untuk oleh-oleh masih cukup affordable.
Window shopping di Song Wat benar-benar terasa menyenangkan. Tidak harus datang dengan niat belanja besar. Masuk ke satu toko, melihat-lihat barang yang unik, menemukan aksesori yang cocok, lalu tiba-tiba pulang membawa satu-dua benda kecil yang mengingatkan pada perjalanan ke Bangkok.
Ada Sedikit Rasa Blok M di Song Wat
Semakin lama menyusuri Song Wat, ada satu kawasan di Jakarta yang tanpa sadar terlintas: Blok M.
Bukan karena bentuknya sama. Jelas berbeda. Song Wat punya gudang-gudang tua di tepi Chao Phraya, bangunan berarsitektur Tionghoa, gang-gang sempit, serta sejarah panjang sebagai kawasan perdagangan. Sementara Blok M punya cerita dan karakter kotanya sendiri.
Yang terasa mirip justru cara sebuah kawasan lama menemukan kehidupan baru.
Di Song Wat, bangunan dan toko yang sudah ada selama puluhan tahun tidak serta-merta menghilang ketika anak muda, coffee shop, butik, galeri, dan bisnis kreatif mulai berdatangan. Semuanya seperti mengambil ruang masing-masing. Persis seperti yang belakangan terasa di Blok M.
Di satu sisi, masih ada wajah lama berupa toko yang sudah lama berdiri, pedagang, warung, bangunan tua, dan kehidupan warga sehari-hari. Di sisi lain, muncul kedai kopi, restoran, toko kreatif, ruang seni, hingga tempat-tempat yang kemudian ramai diburu anak muda.
Keduanya sama-sama punya satu hal yang menarik: kawasan lama yang kembali punya alasan untuk didatangi.
Ada yang datang untuk nostalgia, ada yang sekadar ingin ngopi, berburu makanan, mencari barang unik, bertemu teman, atau berburu foto. Bahkan mereka yang sebelumnya tidak punya alasan untuk datang akhirnya ikut penasaran karena melihat kawasan tersebut ramai dibicarakan.
Song Wat seperti Blok M, kedua kawasan ini tidak kehilangan masa lalunya, tetapi justru menjadikan masa lalu itu bagian dari daya tarik barunya.

Pada akhirnya, perjalanan ke Bangkok yang sering kali identik dengan kuil, pusat perbelanjaan, kuliner, dan tempat-tempat yang sudah sangat dikenal, bukan berarti harus ditinggalkan.
Tapi, cobalah datang ke Song Wat untuk pengalaman yang sedikit berbeda. Di sini, Bangkok tidak tampil sebagai kota besar yang sibuk memamerkan kemajuannya. Kota ini justru terasa lebih dekat melalui gang sempit, bangunan tua, aroma kopi, jajanan kaki lima, toko kecil, mural, dan orang-orang yang menjalani sore mereka seperti biasa.
Manfaatkan Jakal Bookshop Fest 2026 buat bookshop hopping seharian! Ini 5 rekomendasi toko buku indie asyik di Sleman dengan vibe super cozy dan estetik.
Bangkok resmi dinobatkan sebagai kota Workcation terbaik dunia 2026 oleh IWG. Temukan daftar destinasi favorit dan fakta menarik tren Work from Anywhere di sini.
Dalam perjalanan selama 48 jam, wisatawan tetap bisa menikmati beragam wajah ibu kota Thailand.
Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.
polemik
Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.
polemik
MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi
polemik
Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran
polemik
Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian
polemik
Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.
polemik
Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah