Dari MBG hingga Danantara: Mengapa Ahli Menilai Prabowo Tengah Jadikan Orang Miskin Komoditas?
Home > Detail

Dari MBG hingga Danantara: Mengapa Ahli Menilai Prabowo Tengah Jadikan Orang Miskin Komoditas?

Bimo Aria Fundrika | Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Kamis, 27 Februari 2025 | 17:03 WIB

Suara.com - Sejumlah kebijakan Presiden Prabowo Subianto di awal masa jabatannya menuai kontroversi. Program makan bergizi gratis (MBG), pemangkasan anggaran, hingga pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mendapat kritik tajam.

Prabowo mengklaim kebijakan ini demi kesejahteraan rakyat. Namun, sejumlah pakar menilai yang terjadi justru komodifikasi kemiskinan—kemiskinan dijadikan komoditas atas nama pembangunan.

Danantara menjadi kebijakan terbaru. Resmi diluncurkan pada 24 Februari 2025, badan ini bertugas mengelola dan mengembangkan investasi negara. Rencananya, seluruh BUMN akan berada di bawah naungannya.

Namun, untuk tahap awal, baru tujuh BUMN yang bergabung: MIND ID, Bank Mandiri, BRI, PLN, Pertamina, BNI, dan Telkom Indonesia.

Dalam peluncurannya, Prabowo menegaskan bahwa Danantara bukan sekadar badan investasi. Ia ingin badan ini menjadi instrumen pembangunan nasional yang mengoptimalkan pengelolaan kekayaan negara.

Ilustrasi Gedung Danantara (Suara.com/Achmad Fauzi).
Ilustrasi Gedung Danantara (Suara.com/Achmad Fauzi).

"Peluncuran Danantara Indonesia hari ini memiliki arti yang sangat penting. Danantara bukan sekadar badan pengelola investasi, melainkan instrumen pembangunan nasional untuk mengoptimalkan kekayaan Indonesia,” ujar Prabowo.

Setelah berdiri, Danantara langsung mendapat suntikan dana. Rp300 triliun, hasil pemangkasan anggaran kementerian dan lembaga, dialihkan sebagai modal investasi awal.

Kebijakan ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja APBN dan APBD.

Begitu pula dengan MBG. Program makan bergizi gratis diklaim dapat meningkatkan gizi anak dan ibu hamil, serta mencegah stunting.

Namun, di balik klaim kesejahteraan, muncul pertanyaan. Apakah kebijakan ini benar-benar berpihak pada rakyat atau sekadar mengalihkan kekayaan negara ke tangan segelintir pihak?

'Jual Beli Kemiskinan'

Dosen Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Andreas Budi Widyanta, menilai deretan kebijakan dan program Prabowo adalah bentuk komodifikasi kemiskinan.

"Ini bagian dari komodifikasi kemiskinan. Kenapa saya menyebutnya begitu? Karena kaum miskin dijadikan komoditas," kata Widyanta kepada Suara.com, Kamis (27/2/2025).

Ia menjelaskan, kemiskinan diperdagangkan demi menciptakan proyek-proyek baru.

Salah satunya Danantara. Prabowo mengklaim badan ini bertujuan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Namun, Widyanta meragukannya.

Sebab, struktur pengelolaan Danantara diisi oleh orang-orang dari Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Beberapa nama di dalamnya: Rosan Roeslani sebagai Group CEO, Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer (COO), dan Pandu Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO).

Rosan bukan sosok asing. Ia adalah Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 dan kini menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi.

Pandu Sjahrir, keponakan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan. Dony Oskaria, paman dari selebritas Nagita Slavina—istri Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad.

"Jadi, ini hanya atas nama orang miskin. Tapi siapa yang benar-benar menikmati manfaatnya? Bukan mereka. Ini proyek bisnis. Keuntungan jatuh ke tangan siapa? Ya, mereka yang mengelolanya," tegas Widyanta.

Program lain yang disebut sebagai komodifikasi kemiskinan adalah makan bergizi gratis (MBG). Widyanta menilai, kebijakan ini lahir dari narasi kemiskinan yang dikaitkan dengan tingginya angka kekurangan gizi.

Namun, ia menegaskan bahwa MBG tidak bisa menyelesaikan persoalan kekurangan gizi di Indonesia begitu saja. Sebab, kebutuhan gizi setiap daerah berbeda dan tidak bisa disamaratakan.

Berdasarkan data BPS dalam Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2022, ada sekitar 21 juta orang Indonesia yang mengalami kekurangan gizi.

Salah satu penyebabnya, kata Widyanta, adalah hilangnya sumber pangan masyarakat akibat perampasan lahan untuk pertambangan, proyek strategis nasional (PSN), dan food estate.

"Sumber pangan mereka dieksploitasi. Ditambang nikelnya, dialihkan untuk food estate, dan sebagainya. Akibatnya, ekosistem rusak," ujar Widyanta.

Dampaknya bukan hanya pada pangan, tapi juga kehidupan masyarakat. Contohnya food estate di Merauke, Papua Selatan. Proyek ini memicu kekhawatiran warga karena berpotensi merampas lahan hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka. Situasi ini justru membuat masyarakat semakin rentan.

Siapa yang Diuntungkan? 

Pertanyaan ini juga muncul dari ekonom senior Indef, Didik J. Rachbini. Salah satu klaim pemerintah, Danantara akan membantu menaikkan pertumbuhan ekonomi dari 5 persen menjadi 6,5 persen dengan mendorong ekspor bernilai tambah serta industrialisasi.

Ekonom INDEF Didik J Rachbini. [paramadina.ac.id]
Ekonom INDEF Didik J Rachbini. [paramadina.ac.id]

"Tapi, sejauh mana BPI Danantara benar-benar berperan dalam perekonomian Indonesia? Bagaimana mekanisme kerjanya dalam mengelola aset sebesar itu? Dan yang paling penting, siapa yang akan menikmati manfaat dari kebijakan ini?" kata Didik dalam keterangannya kepada Suara.com.

Ia mengingatkan, jika Danantara hanya menjadi perpanjangan kepentingan politik tanpa transparansi dan tata kelola yang kuat, maka harapan pertumbuhan ekonomi bisa jadi sekadar ilusi.

"Kalau program ini tidak ramah manusia dan lingkungan, tidak usah bicara soal kedaulatan. Ini bukan kedaulatan bangsa, tapi kedaulatan para elit," tegas Widyanta.


Terkait

Bakal Ada Pihak Asing yang Jadi Pengawas Danantara
Kamis, 27 Februari 2025 | 15:04 WIB

Bakal Ada Pihak Asing yang Jadi Pengawas Danantara

Kekinian, baru dua nama yang mencuat jadi dewan pengawas, yaitu Menteri BUMN Erick Thohir menjadi Ketua Dewan Pengawas. dan Muliaman Hadad sebagai Wakil Dewan Pengawas.

Pengamat Usul Retret Khusus Pengurus Danantara, Netizen: Nanti Dapat Pengarahan dari Wapres
Kamis, 27 Februari 2025 | 12:30 WIB

Pengamat Usul Retret Khusus Pengurus Danantara, Netizen: Nanti Dapat Pengarahan dari Wapres

Danantara sendiri sebelumnya menuai banyak kritikan, khususnya mengenai rawannya pengawasan yang transparan.

Kaesang Pangarep Masuk Danantara, Netizen: Bisnis Bangkrut, Kini Jabatan Baru?
Kamis, 27 Februari 2025 | 13:00 WIB

Kaesang Pangarep Masuk Danantara, Netizen: Bisnis Bangkrut, Kini Jabatan Baru?

Netizen membandingkan jabatan baru Kaesang ini dengan beberapa bisnisnya yang bangkrut.

Terbaru
Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M
polemik

Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:28 WIB

Menyusuri Song Wat di Bangkok, dengan suasana yang mengingatkan pada Blok M, tempat masa lalu dan gaya hidup baru bertemu.

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

×
Zoomed