Suara.com - Muslim Syiah di Indonesia kerap menjadi sasaran persekusi. Mereka dianggap menyembah patung karena memakai batu turbah ketika sujud dalam salat. Namun, di tengah gencarnya tuduhan seperti itu, mereka tetap teguh bersetia.
Empat tahun menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, meninggalkan kesan mendalam di pikiran Rohmah. Di negeri Raja Salman tersebut, ia terheran-heran karena banyak orang sampai menangis saat berdoa.
“Saya juga seringkali menangis mendengar ayat-ayat Alquran dilantunkan di Arab Saudi. Meskipun waktu itu saya belum mengerti arti ayat-ayat itu, tapi rasanya menyejukkan,” tutur perempuan berusia 52 tahun itu kepada Suara.com, di Islamic Cultural Center Jakarta, Jalan Buncit Raya No 35 RT1/RW7, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (24/5/2018).
Sejak saat itu, Rohmah memutuskan mempelajari Islam dari berbagai mazhab. Ia giat mencari informasi dan pengetahuan mengenai Islam dari berbagai sumber di tempat kerjanya.
Ketika asyik melakukan pembelajaran itulah, Rohmah mengakui penasaran terhadap mazhab Syiah. Rasa penasarannya itu berpusar pada sejumlah hal yang menurutnya baik.
”Dalam buku-buku yang saya pelajari di Saudi, mazhab A bilang begini, terus di ajaran lain menentukan begitu, tapi di Syiah ini dipersatukan, ketemu solusinya. Akhirnya, saya memutuskan untuk bermazhab, yakni Syiah,” terangnya.
Sepulangnya ke Indonesia, Rohmah bertekad mendalami mazhab tersebut. Setelah sekian lama melakukan pencarian, ia akhirnya menemukan ICC Jakarta.
Ia memutuskan untuk menyambangi ICC Jakarta. Ia betul-betul masih mengingat, kali pertama datang ke sana, sempat ditolak masuk oleh Zainal alias Babeh, penjaga keamanan tempat tersebut. Zainal sendiri merupakan penganut Islam mazhab Sunni.
“Sewaktu saya kali pertama datang kan gerbang ditutup. Oleh Babeh tak boleh masuk. Saya sempat menangis ke Babeh dan bilang, ‘Pak, tolong dong pak, saya dari Arab nih’ begitu, akhirnya dibolehkan masuk setelah menjelaskan maksud kedatangan,” kenangnya.
Rohmah aslinya berdomisili di Tangerang. Setelah ikut pembelajaran di ICC Jakarta, ia juga dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga tempat tersebut dan tinggal di situ.
Trisna, perempuan berusia 23 tahun, juga memunyai kisah unik hingga akhirnya ia memutuskan untuk bermazhab Syiah.
Pegawai swasta tersebut awalnya ingin mempelajari Islam Syiah, sehingga sekali waktu mengikuti pembelajaran di ICC Jakarta.
Setelahnya, ia memantabkan diri bergabung dan memutuskan pindah indekos ke Pejaten Barat, dekat dengan ICC Jakarta. Padahal, tempat kerjanya berada di Permata Hijau, Jakarta Selatan.
“Saya sudah tiga tahun mengikuti pengajian di sini. Dulu saya juga banyak belajar, setelahnya saya memutuskan pindah indekos ke sini, karena tak mau jauh-jauh dari ICC,” terangnya.
Trisna lantas mengungkapkan satu rahasia dirinya. Ia menuturkan, orang tuanya belum mengetahui dirinya kekinian memeluk mazhab Syiah.
”Orang tua belum tahu, tapi suatu saat, saya akan memberitahukannya dan menjelaskan kepada mereka,” terangnya.
Rohmah maupun Trisna mengakui, menjadi seorang Muslim dan bermazhab Syiah tak lazim di Indonesia. Apalagi, mereka kerap dituduh negatif, terutama sebagai penyembah patung karena memakai turbah saat salat.
Ustaz Ahmad Hafidz Alkaff, seorang habib sekaligus juru bicara ICC Jakarta, megakui, Muslim Syiah di Indonesia kerap dituduh menyembah patung.
”Saya tegaskan, Mazhab Syiah 12 Imam secara internasional diakui sebagai bagian dari Islam. Kami tidak menyembah patung, kami menyembah Allah SWT,” tegasnya.
Ia menuturkan, mengenai batu turbah yang dipersoalkan, sebenarnya hanyalah lempengan tanah yang dipadatkan dan digunakan ketika sujud saat salat.
Turbah berasal dari bahasa Arab yaitu turab, yang berarti debu atau lumpur. Menurut kepercayaan mereka, salat tidak akan sah apabila sujud di atas sajadah atau alas lain buatan manusia.
Dalam fikih Syiah, tuturnya, sujud di atas tanah merupakan perintah Rasulullah dan para imam Ahlul Bait AS.
"Dalam mazhab kami, orang sujud itu harus di atas tanah atau sesuatu yang ditumbuhkan dari tanah. Syaratnya tidak bisa dibuat menjadi pakaian atau makanan. Tidak harus batu turbah, tetapi bisa pakai kertas," jelasnya.
”Sujud ’di atas’ (batu) dengan ’sujud kepada’ (batu) itu dua hal yang berbeda, tak bisa dicampuradukkan. Ini fitnah mengenai hal tersebut dahsyat sekali,” ungkapnya.
Hafidz menuturkan, banyak orang di luar Syiah yang datang ke ICC Jakarta, salah satunya untuk mengonfirmasi tuduhan tersebut.
”Ketika mereka datang, kami terima dan jelaskan. Setelahnya, mereka mengatakan tak masalah. Jadi saya bisa jamin, informasi negatif itu sengaja disebar untuk merusak persaudaraan Sunni-Syiah,” tuturnya.
"Setahu saya di NTB itu masalah syiah dan sunni yang masih,"
ISIS klaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri itu.
"Acara ini sudah mendapat izin. Lagi pula, kami memeringati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW," terangnya.
Selain perempuan dan anak-anak, mereka juga membunuh warga lanjut usia.
Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.
polemik
Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.
polemik
MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi
polemik
Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran
polemik
Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian
polemik
Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.
polemik
Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah